detikNews
Selasa 29 Januari 2019, 19:25 WIB

Bachtiar Nasir Tak Ingin Umat Islam Hanya Jadi Pemanis di Pemilu

Farih Maulana Sidik - detikNews
Bachtiar Nasir Tak Ingin Umat Islam Hanya Jadi Pemanis di Pemilu Bachtiar Nasir (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - KH Bachtiar Nasir melalui Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengeluarkan tiga imbauan kepada umat Islam untuk bersikap di Pemilu 2019. Bachtiar menyeru umat Islam agar tidak hanya jadi pemanis pada pesta demokrasi 5 tahunan.

Hal itu disampaikan Bachtiar Nasir, yang menjabat Sekjen MIUMI, dalam jumpa pers di Rumah Makan Padang Garuda, Jl Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (29/1/2019). Hadir pula Ustaz Zaitun Rasmin dan Ustaz Fahmi Salim.

"Di tahun politik ini, banyak hal yang kami perhatikan. Kalau ini kami biarkan, kami tidak ikut meluruskan perjalanan daripada politik bangsa, ini kami merasa berdosa," kata Bachtiar.


Bachtiar awalnya menjelaskan soal sejarah MIUMI. Bachtiar mengatakan MIUMI adalah sebuah komunitas dari berbagai ormas dan lembaga-lembaga lainnya yang terdiri atas akademisi dan non-akademisi.

"Jadi komunitas ini komunitas para tokoh yang menjadikan ilmu sebagai basis gerakan, basis perjuangan, dan basis sinergi mereka. Termasuk gerakan kami adalah bagaimana ikut berperan serta dalam gerakan politik keumatan, termasuk menyambut pilpres, pileg, dan pimpinan DPD RI 2019 ini," sebut Bachtiar.

MIUMI memperjuangkan suatu jargon politik, yaitu terciptanya integrasi keislaman dan kebangsaan. Bachtiar menyebut Islam, sebagai agama yang universal bagi seluruh manusia, memandang politik sebagai sarana ibadah yang agung dalam rangka melakukan tata kelola kehidupan publik yang berkeadilan dan menyejahterakan masyarakat dan bangsa. Dia menegaskan Islam dan politik tak dapat dipisahkan, bahkan menjadi satu kesatuan yang integral.

"Untuk itu, umat Islam menolak sekularisme dan liberalisme yang hendak memisahkan Islam dengan politik kebangsaan. Karena belakangan ini orang-orang yang tidak paham tentang Islam dan mendiskreditkan Islam dan berkata jangan campur adukkan agama dengan politik. Ini kami tolak karena Islam melihat, jika politik adalah memilih pemimpin, jika politik adalah menentukan undang-undang dan peraturan, jika politik adalah terkait menata kelola publik dan kehidupan publik, bagi kami ini adalah bagian dari ibadah yang agung dan tidak bisa dipisahkan," beber dia.


Bachtiar menyebut ada tiga kerangka dasar Islam, yaitu akidah, syariah, dan akhlak, yang sudah lama sudah menjadi sendi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan, lanjut Bachtiar, sejak awal Indonesia berdiri, Islam sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Untuk itu, kami akan menolak dan melawan setiap upaya yang akan menyingkirkan narasi dan nilai Islam dari fondasi NKRI dan Undang-Undang Dasar '45. Misalnya kami menolak narasi dan nilai komunisme, kami juga menolak narasi dan nilai leninisme juga marxisme sebagaimana yang tertuang dalam Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966," katanya.

MIUMI, kata Bachtiar, ingin meneguhkan bahwa Islam dengan tiga kerangkanya sudah menjadi sendi bagi bangsa ini dan bahkan disebut menjadi bagian dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Bachtiar ingin menyadarkan umat Islam sebagai pemilih terbesar yang menentukan nasib umat dan bangsa dalam Pilpres dan Pileg 2019. MIUMI mengeluarkan tiga imbauan, salah satunya tak ingin umat Islam hanya menjadi pemanis pada Pemilu 2019. Berikut ini imbauannya:

1. Agar seluruh umat Islam tidak golput dan menggunakan hak pilihnya. Tapi dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat yang otomatis juga berpihak pada kepentingan bangsa.

2. Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekadar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya. Ini sudah lama dirasakan, saat pemilu seperti ini suara Islam dicari-cari, dielus-elus, masuk ke masjid pakai serban, mendadak banyak yang tiba-tiba menjadi saleh hanya untuk kepentingan sesaat. Menjadikan Islam sebagai pemanis dan setelah itu umat Islam dijadikan sebagai pendorong mobil mogok. Kepada umat Islam saya menyerukan untuk jangan mau terulang lagi pada pemilu raya kali ini. Pilihlah para calon yang berkepentingan pada umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti-Islam atau islamophobia dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. Contoh kasus hari ini jangan pilih calon dari partai yang jelas-jelas mendukung LGBT yang hendak memaksakan kehendak merealisasikan rancangan undang-undang penolakan kekerasan seksual menjadi sebuah undang-undang. Karena ini bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45. Nah ini umat Islam harus selalu sadar dengan kondisi ini dan jangan salah pilih.

3. Mengajak umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan. Ini juga kegelisahan kami banyak tokoh-tokoh yang ikut saling menyerang. Mengajak umat Islam menjaga persaudaraan dan kesatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa. Jangan menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik. Jangan pula menyerang ulama, jangan pula menyerang lembaga keulamaan. Jangan menyerang ormas Islam atau menyerang sesama ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam mana pun. Dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana diajarkan dalam Alquran dan assunah khususnya di surat Al Hujurat.
(gbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com