DetikNews
Senin 19 November 2018, 11:27 WIB

Lakon 'Petruk Jadi Raja' yang Berbeda dari Puisi Fadli Zon

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Lakon Petruk Jadi Raja yang Berbeda dari Puisi Fadli Zon Tokoh Petruk dalam wayang kulit Jawa. (Foto: dok. Tropenmuseum via Wikimedia Commons)
Jakarta - Waketum Gerindra yang juga Wakil Ketua DPR Fadli Zon kembali membuat puisi. Kali ini berjudul 'Petruk Jadi Raja'. Bait-baitnya seakan-akan menyadur lakon 'Petruk Jadi Raja' di pewayangan Jawa, tapi ternyata alur ceritanya berbeda.

"Lakon 'Petruk Dadi Ratu' adalah lakon carangan (cabang dari lakon baku) dalam dunia pewayangan Jawa, digubah untuk menjawab permasalahan negara di mana para pejabat negara banyak yang korup dan tidak memikirkan nasib rakyatnya," kata pengajar sastra Jawa UI Darmoko kepada detikcom, Minggu malam (18/11/2018).



Dalam bahasa Jawa, 'Petruk Jadi Raja' disebut 'Petruk Dadi Ratu'. Ratu bukan berarti perempuan dalam bahasa Jawa, melainkan bermakna 'raja'. Adapun lakon baku dari 'Petruk Dadi Ratu', menurut Darmoko, adalah Mbangun Candhi Sapta Arga, yang merupakan cerita tentang sarana Pandawa mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Kedua lakon itu tidak dapat dipisahkan, membahas hakikat dari jimat Kalimasada (Jamus Kalimahusada) atau sering dipersepsikan sebagai azimat kalimat syahadat dalam perspektif Islam. Jimat ini berfungsi sebagai pusaka bagi manusia untuk meluruskan yang melenceng, membetulkan yang salah, dan mengingatkan yang lupa, serta memperbaiki yang rusak," tutur Darmoko.

Jimat Kalimasada dalam cerita wayang Jawa, menurut Darmoko, juga merupakan manifestasi dari kekuasaan ilmu pengetahuan yang di dalamnya terdapat ideologi, strategi, dan manajemen untuk mengelola sebuah negara berdasarkan prinsip-prinsip keutamaan, kebenaran, dan keadilan. Darmoko kemudian memulai penjelasan tentang lakon Mbangun Candhi Sapta Arga, yang garis besarnya menggambarkan perebutan Jamus Kalimasada oleh para tokoh 'elite'.

"Prabu Bumiloka, Raja Ima Imantaka, yang didukung oleh adiknya, Mustakaweni, dan begawan Mustakaraja (perubahan wujud dari Aji Gineng, pusaka Prabu Niwata Kawaca, ayah Prabu Bumiloka) ingin menguasai jimat Kalimasada dengan cara menyamar sebagai orang-orang Pandawa. Demikian pula orang-orang Pandawa tidak kalah untuk menunjukkan kedigdayaannya dengan berubah wujud sebagai orang-orang Ima Imantaka," papar Darmoko.

Kedua kubu kemudian saling adu kesaktian. Singkat cerita, Jamus Kalimasada bisa direbut oleh Bambang Priyambada, salah satu putra Arjuna. Bambang Priyambada kemudian menjadi kekasih dari Mustakaweni, yang sebelumnya keduanya berbeda kubu.

Bambang kemudian menitipkan Jamus Kalimasada kepada Petruk. Sementara itu, Bambang bersama Mustakaweni bergabung dengan para Pandawa ke Sapta Arga. Petruk lantas menuju wilayah yang lebih jauh agar tak terkejar oleh orang-orang dari Ima Imantaka.

"Lakon Petruk Dadi Ratu digubah di lingkungan masyarakat Jawa. Latar kebudayaan Jawa tentu saja mewarnai produksi atas lakon ini. Nilai-nilai budaya Jawa yang bersumber dari etika (filsafat moral) dan estetika (filsafat keindahan) menjadi landasan atas penggubahan lakon tersebut. Moralitas sebagai acuan dalam memperbaiki keadaan suatu bangsa, sedangkan estetika sebagai ekspresi karismatik dan keagungan suatu bangsa. Etika keselarasan menjadi nilai yang paling hakiki di dalam produksi lakon Petruk Dadi Ratu ini," tutur Darmoko.

Darmoko menjelaskan, ada keselarasan antara Petruk dan Jamus Kalimasada. Penafsiran pertama, Jamus Kalimasada merupakan dua kalimat syahadat, yang dalam dunia Islam adalah rukun yang pertama.

"Hal ini tidak dapat dimungkiri bahwa wayang pada zaman Islam, pascakeruntuhan Majapahit, dipergunakan sebagai sarana syiar Islam bagi para wali di tanah Jawa," ujar Darmoko.

Kemudian perspektif kedua, Jamus Kalimasada juga berarti Pancasila, sehingga sosok yang bisa menggunakan Jamus Kalimasada adalah yang telah mampu selaras dengan 'pusaka' tersebut.

"Penafsiran yang dapat dikemukakan di sini yaitu bahwa Petruk sebagai raja di negara Loji Tengara memerintah rakyatnya dengan berbekal pada iman keislaman yang kokoh dengan berlandaskan pada nilai-nilai lima sila yang menjadi acuan hidup bagi bangsa. Lima sila yang dimaksud adalah nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial," papar Darmoko.

Petruk memposisikan diri sebagai representasi rakyat kecil, tetapi kemudian memiliki kekuasaan dengan maksud mengabdikan diri kepada masyarakat. Petruk, ujar Darmoko, ingin meluruskan yang melenceng.

"(Petruk) berusaha membetulkan moral yang salah dengan mengingatkan para politikus yang lupa diri, karena silau terhadap dunia dan kekuasaan, serta memperbaiki moral manusia yang sudah telanjur rusak. Nilai-nilai tersebut digambarkan sepenuhnya di dalam lakon Petruk Dadi Ratu," kata Darmoko.

Petruk berupaya mengingatkan para ksatria Pandawa yang mulai silau oleh kekuasaan. Dia mencoba membuat Pandawa kembali ingat pada rakyat.

"Tiada gading yang tak retak, kiranya pantas untuk ungkapan bagi Petruk sebagai raja di Loji Tengara itu. Sebagai manusia biasa, tentu ia pun terdapat kekurangan, yaitu dengan meninggalkan negara Amarta tanpa pamit. Kadang-kadang manusia dikendalikan oleh pamrih yang membuatnya menjadi kurang bijaksana. Karena itu, sebagai manusia yang beretika, hendaknya selalu ingat dan waspada (eling lan waspada), bisa merasakan atas dirinya, artinya ada upaya untuk menimbang-nimbang atas dirinya: saya itu siapa, saya ini apa, dan saya ini harus bagaimana (bisa rumangsa) dan jangan merasa selalu bisa (rumangsa bisa)," papar Darmoko.

Menurut Darmoko, lakon Petruk Dadi Ratu sarat akan pembelajaran menuju Indonesia yang lebih baik. Wayang merupakan cerita yang penuh pesan untuk masyarakat melalui penelusuran karakter-karakter tokoh, lakuan tokoh, latar waktu, tempat, dan sosial.

"Wayang sebagai mitos dapat mengarahkan masyarakat agar mengikuti pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan tersebut menyangkut ideologi yang menjadi pandangan suatu kelompok masyarakat. Kehadiran lakon wayang dapat dipergunakan oleh seseorang atau kelompok orang untuk mengarahkan atau menggiring opini masyarakat umum melalui mitos yang terdapat di dalamnya," ungkap Darmoko.
Fadli Zon. Fadli Zon. Foto: Tsarina/detikcom

Sementara itu, dalam puisi karangan Fadli Zon, Petruk digambarkan sebagai sosok yang tak tahu apa-apa ketika menjadi raja. Fadli Zon juga menggambarkan Petruk berada di wilayah Astina, bukan Amarta, yang dipimpin oleh Arjuna.

Berikut kutipan puisi Fadli Zon:

PETRUK JADI RAJA

suatu hari di Astina
petruk iseng jalan blusukan
tak disangka nasib suratan
tiba kesempatan berkuasa

petruk bersolek penuh citra
mencuri perhatian warga
program abal-abal dijual
seratus janji diobral
akhirnya dilantik jadi raja

petruk bertahta di singgasana
mimpi perbaiki keadaan
tak tahu apa mau dilakukan
merusak aturan tatanan
semua jadi dagelan

petruk biang kekacauan
ekonomi carut marut tak karuan
politik gonjang ganjing kegaduhan
budaya tercecer berantakan
agama mudah dinistakan
harapan pupus berserakan
petruk plonga plongo kebingungan

itulah hikayat negeri Astina
ketika petruk jadi raja

Fadli Zon, London, 18 Nopember 2018
(bag/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed