DetikNews
Jumat 26 Oktober 2018, 12:45 WIB

LIPI Kembangkan Baterai Lithium Berbahan Baku Tempurung Kelapa

Azizah Rizki - detikNews
LIPI Kembangkan Baterai Lithium Berbahan Baku Tempurung Kelapa Foto: Baterai berbahan dari tempurung kelapa (Aziza-detik)
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan dua penelitian dalam bidang kelistrikan. Penelitian yang tengah dikembangkan LIPI meliputi kawat superkonduktor dan baterai lithium berbahan baku tempurung kelapa.

"Superkonduktor materialnya itu hambatannya 0, jadi nggak ada hambatan. Jadi kalau ada kawat menghantarkan listrik, itu dia tidak ada hambatan, jadi energinya itu nggak ada yang hilang. Jadi apabila dipakai untuk menghantarkan listrik, energi listriknya itu juga nggak ada yang hilang," kata peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan LIPI Agung Imaduddin di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).



Aplikasi kawat superkonduktor terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energi Iistrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI). Penerapan material superkonduktor disebut Agung dapat mengurangi hilangnya energi dan ramah lingkungan.

Selain itu, dengan penerapan kawat superkonduktor pada bidang listrik menurut Agung dapat menghemat biaya hingga Rp 8,5 miliar per kilometer per tahun. Ia akan berkomunikasi dengan PLN untuk membuka kemungkinan penerapan superkonduktor secara massal.

"Berdasarkan referensi memang Rp 8,5 milisr per km per tahun. Kami juga belum menghitung untuk kapasitas listrik di Indonesia ya, karena kalau di Indonesia dengan kondisi sekarang itu sekitar 20-30 persen itu hilang di tengah jalan. Jadi sedangkan kalau pakai kawat superonduktor itu bisa hilangnya paling cuma 2-3 persen. Jadi penghematannya akan sangat bisa diperoleh," jelas Agung.

"Kalau dengan PLN sendiri terus berkomunikasi untuk menyampaikan hasil penelitian kami. Mereka pada dasarnya menerima masukan. Mereka punya standar dan prosedur-prosedur yang mereka punyai. Kalau hal-hal baru dibuat pilot project dan infrastruktur yang baru itu juga perlu pertimbangan sendiri. Pada dasarnya mereka juga tertarik dengan pemakaian superkonduktor ini," imbuhnya.

Selain kawat superkonduktor, LIPI juga mengembangkan penelitian tentang baterai lithium berbahan dasar tempurung kelapa. Baterai ini disebut memiliki kapasitas yang lebih besar dan juga mampu mengisi daya dengan cepat atau fast charging.

"Dia kapasitasnya lebih tinggi, artinya dia bisa diisi dengan cepat tadi, fast charging. Itu menggunakan karbon dari tempurung kelapa," jelas peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Achmad Subhan di lokasi yang sama.


LIPI Kembangkan Baterai Lithium Berbahan Baku Tempurung KelapaFoto: Kawat Superkonduktor (Aziza-detik)


"Fast chargingnya kalau ini bisa 6 menit sudah terisi 50 persennya. Kalau baterai konvensional itu 30 menit terisi 50 persen," imbuh Achmad.

Achmad menambahkan, penggunaan karbon aktif yang optimum seperti tempurung kelapa sebagai komponen elektroda baterai lithium, dapat meningkatkan nilai kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi. Ia menyebut proses pembuatan karbon aktif yang sesuai untuk kebutuhan industri baterai sangat berpotensi untuk dikembangkan.

"Saya pikir pengembangan material untuk penyimpanan energi itu sangat diperlukan yang menuju ke arah fast charging, karena bagaimanapun produksi listrik semakin meningkat. Penyimpan energi paling baik itu yang memiliki kemampuan fast charging atau pengisian yang cepat," pungkasnya.
(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed