DetikNews
Rabu 15 Agustus 2018, 09:08 WIB

Misteri Jejak Komandan PETA Supriyadi, Ini Kata 2 Sahabatnya

Erliana Riady - detikNews
Misteri Jejak Komandan PETA Supriyadi, Ini Kata 2 Sahabatnya Sukiyarno (eli/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Blitar - Sejarah pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) Blitar menyisakan kisah mistis. Hilangnya sang komandan Sudanco Supriyadi, belum ada titik terang hingga kini.

Menurut penuturan anggota PETA Blitar yang tersisa, Sukiyarno (91) komandannya itu tidak dia temui lagi sejak tanggal 15 Februari 1945. Sehari pascapemberontakan PETA terjadi.

"Tapi saya kan bagian penghubung. Jadi saya dapat kabar, Supriyadi dijadikan romusa tambang batu bara di Bayah, Lebak Banten," ucapnya, Rabu (15/8/2018).


Menjelang kemerdekaan, Supriyadi pulang ke rumah Adi Munandar, warga Bayah yang menaruh iba padanya.

"Supriyadi meninggal di rumah Adi Munandar karena sakit diare. Tapi anehnya, Adi tidak dapat menunjukkan kuburannya. Bahkan saat itu pemerintah membentuk panitia untuk mengungkap kasus romusa di Bayah," ungkap Sukiyarno.

Berdasarkan keterangan tim ahli, profil tanah di wilayah Bayah bisa menghancurkan leburkan sisa-sisa tulang yang terkubur. Hingga tak satu pun sisa kerangka korban romusa ditemukan di sana. Pun kuburan Supriyadi.


Namun ada hal mengejutkan saat detikcom menyusuri jejak pejuang veteran di Blitar. Di wilayah Pangru Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, detikcom menemui pejuang Sainendan yang berubah menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Lelaki berusia 89 tahun ini bernama Y. Darsono. Saat bergabung di TRIP usianya baru 15 tahun. Dia mengaku adik seperguruan Supriyadi. Mereka berdua punya guru spiritual sama, yakni Mbah Kasan Bendo.

"Sebelum pemberontakan itu, saya bersama Supriyadi sowan Mbah Kasan Bendo. Sebetulnya sudah dilarang berontak besok (14 Februari). Kata Mbah Kasan banyak kalahnya. Berontak saja 5 atau 6 bulan lagi kalau mau menang," ucapnya.

Namun Supriyadi bertekad mengadakan pemberontakan esok harinya. Kasan Bendo kemudian memberinya sebuah senjata. Senjata itu semacam mandau. Jika dikeluarkan dari tempatnya, maka si pemegang senjata bisa menghilang.

"Hanya pesennya Mbah Kasan, kalau kalah jangan sampai ngalah. Tapi kalau menang jangan mau dikasih jabatan apa pun," imbuhnya.

Ternyata benar apa yang dikatakan Kasan Bendo. Pemberontakan Peta kalah. Darsono mengaku mendapat perintah Kasan Bendo untuk "mengamankan" Supriyadi ke arah utara.
Tanggal 14 Februari sekitar pukul 19.00 WIB mereka membawa Supriyadi ke Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari.

"Saya bersama tiga murid Mbah Kasan lainnya. Yakni Lurah Sumberagung Harjo Miyarso, adiknya lurah Harjo Sucipto dan Suyitno membawa Supriyadi ke sebuah makam di Sumberagung. Di situ ada pohon beringin sangat besar. Bagian atas tengahnya lobang. Di situlah Supriyadi kami amankan," paparnya.

Tanggal 15 Februari sekitar pukul 09.00 WIB, Supriyadi minta diantarkan ke Gunung Gedang. Lokasinya di sisi timur Gunung Kelud. Mereka berlima menyusuri jalan setapak yang rimbun belukar dan pepohonan besar.

Tiba di sebuah dataran lebih tinggi dengan lubang kecil semacam gua, mereka berhenti. Saat itu menurut Darsono sekitar pukul 14.00 WIB.

"Kami berhenti, Supriyadi meminta kami berdoa menghadap ke utara. Berdoa untuk keselamatan masing-masing dengan memejamkan mata," imbuhnya.

Namun saat mereka membuka mata, Supriyadi sudah tidak ada! Harjo Miyarso lalu menunjuk ke arah gua dan bilang, Supriyadi menuju ke sana. Dia akan bertapa.

"Saya yakin Supriyadi masih hidup sampai sekarang. Cuma nggak kelihatan. Buktinya, setelah kemerdekaan Bung Karno mengangkatnya sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Rakyat. Hanya dia memenuhi janji, tidak boleh menerima jabatan apapun jika menang," pungkasnya.


Simak Juga 'Heroisme Sukriyano, Tentara PETA dan Misteri Hilangnya Supriyadi':

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed