DetikNews
Selasa 24 April 2018, 10:43 WIB

Gerindra: Buka Opsi Duet dengan Prabowo, Jokowi Mumet dan Panik

Danu Damarjati - detikNews
Gerindra: Buka Opsi Duet dengan Prabowo, Jokowi Mumet dan Panik Jokowi-Prabowo (Dok Twitter Pramono Anung @pramonoanung)
Jakarta - Joko Widodo membuka opsi duet dengan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Menurut Partai Gerindra, wacana opsi duet yang diembuskan itu adalah gejala Jokowi pusing.

"Jokowi dan Istana lagi mumet," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono kepada detikcom, Selasa (24/4/2018).

Jokowi, ujarnya, sedang mumet alias pusing memikirkan elektabilitasnya yang turun. Ferry mengutip hasil survei Lembaga Media Survei Nasional (Median).

"Berdasarkan hasil survei Median, elektabilitas Jokowi hanya 36 persen. Survei tersebut dilakukan sebelum harga BBM naik, sebelum Premium hilang di pasaran, sebelum kasus Sukmawati, dan sebelum dikeluarkan Perpres Nomor 20 Tahun 2018. Jadi kecenderungannya pasti turun," tuturnya.


Penurunan citra Jokowi di mata masyarakat, dikatakan Ferry, semakin menjadi setelah kurs rupiah terhadap dolar AS nyaris menyentuh Rp 14 ribu. Perpres tentang Tenaga Kerja Asing juga dinilainya memberatkan langkah Jokowi.

"Anjloknya elektabilitas Jokowi saat ini diperparah oleh anjloknya rupiah, yang sudah menembus batas psikologis Rp 14 ribu. Dan maraknya penolakan Perpres tentang Tenaga Kerja Asing, khususnya yang dari China tersebut, akan menggerus habis Jokowi. Padahal sudah setahun mungkin Jokowi kampanye terselubung, tapi ya hasilnya seperti itu," sebut Ferry.

Jokowi, dinilainya, putus asa mencari cara menyelamatkan elektabilitas yang diklaim terus merosot. Karena itu, Ferry mengatakan, dimunculkanlah opsi duet dirinya dengan Prabowo untuk menyelamatkan dari kegagalan Pilpres 2019.

Gerindra: Buka Opsi Duet dengan Prabowo, Jokowi Mumet dan PanikFerry Juliantono (Tsarina Maharani/detikcom)

"Makanya Jokowi panik dan belakangan sering mengirim utusan dalam rangka penjajakan kemungkinan koalisi, termasuk menjajaki kemungkinan Pak Prabowo berpasangan. Sudah tidak ada yang mau lagi dengan orang yang elektabilitasnya hancur. Apalagi kalau soal ekonomi ini makin krisis, jangan-jangan belum tentu bisa bertahan sampai 2019," ujar dia.

Survei terbaru yang baru dirilis adalah dari Litbang Kompas. Dalam survei ini, elektabilitas Jokowi naik cukup tinggi, mencapai 55,9 persen. Sedangkan elektabilitas Prabowo merosot hanya tinggal di posisi 14,1 persen.

Sebelumnya, dalam perbincangan dengan Najwa Shihab di acara 'Mata Najwa' yang disiarkan Trans 7, Senin (25/4), Jokowi menuturkan soal peluang dirinya berduet dengan Prabowo.


Berikut ini cuplikan wawancara Najwa Shihab dengan Jokowi:

Najwa Shihab: Pernah ada wacana untuk menggandeng Prabowo Subianto menjadi cawapres Anda, Pak Jokowi?

Jokowi: Dalam rangka kebaikan negara ke depan, kenapa tidak. Saya membuka semua opsi yang ada.

Najwa Shihab: Opsi itu datang dari Anda Pak Jokowi atau justru dari pihak Pak Prabowo?

Jokowi: Kalau ditanya datang dari mana, ya datang dari dua-duanya.

Najwa Shihab: Apakah masih terbuka opsi itu?

Jokowi: Semua opsi masih terbuka sekarang. Kenapa tidak?

Koalisi Jokowi-Prabowo dinilai partai NasDem merupakan kreativitas yang berlebihan. Kok bisa? simak selengkapnya dalam video berikut:


(dnu/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed