DetikNews
Sabtu 30 Desember 2017, 14:19 WIB

Ustaz Somad Terpeleset Hidung Pesek hingga Hari Ibu

Sudrajat - detikNews
Ustaz Somad Terpeleset Hidung Pesek hingga Hari Ibu Foto: Dok. Fanpage Facebook Ustaz Somad
Jakarta - Terlepas dari berbagai kelebihannya, Ustaz Abdul Somad tetap manusia biasa. Penceramah asal Riau lulusan Al-Azhar, Mesir dan master ilmu hadis dari Maroko itu bisa keseleo lidah, juga terkadang mungkin bersikap naif dan tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu.

"Dari sederet kelebihannya, kalau saya perhatikan dalam beberapa ceramahnya di Youtube, memang ada sesekali dia melontarkan komentar atau pendapat yang tak perlu," kata DR. Moeflich Hasbullah, dosen Sejarah Islam di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung kepada detik.com, Jumat (29/12/2017).


Komentar Somad tentang Rina Nose yang melepas jilbabnya, misalnya. Menjawab pertanyaan seorang jamaah, Somad berujar, "Rina Nose ini siapa? Artis? Yang pesek itu? Saya kalau artis jelek ndak, kurang berminat saya. Apa kelebihannya? Pesek, buruk, itu saja."

Tak cuma Rina Nose yang membalas, Somad juga dikritik seniornya sesame alumnus al-Azhar, Afiffudin Harisah. "Mancung dan pesek itu ciptaan Allah. Menghina sebuah ciptaan berarti menghina Penciptanya...padahal Iblis sendiri tidak pernah menghina ciptaan Allah (mantiq Azhari)," tulis Afiffudin yang dosen di UIN Alauddin Makassar.



Di kali lain, dalam ceramah di beberapa kesempatan, saat mendapat pertanyaan tentang khilafah, Somad jelas-jelas mendukungnya dengan merujuk hadits riwayat Ahmad bin hanbal. "Segala sesuatu mesti diperjuangkan," ujarnya seusai memaparkan isi hadits tersebut.

Selain itu, dia mendukung dan menganjurkan pembuatan perda-perda syariah di banyak daerah.


Itulah kenapa DR. Moeflich Hasbullah, dosen Sejarah Islam di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung menyebut pikiran Abdul Somad tidak mewakili NU tapi mewakili independensi keilmuan dirinya dan umat Islam. "Dia orang NU tapi membenarkan khilafah dengan dasar kutipan kitabnya. Dia juga simpatik pada Erdogan, bahkan mengidolakannya, yang rata-rata orang NU tidak suka," kata Moeflich.

 Ustaz Somad Terpeleset Hidung Pesek hingga Hari IbuFoto: Fuad Hasyim

Mungkin karena lebih banyak menekuni ilmu hadist, Somad menjadi alfa terhadap sejarah bangsanya sendiri. Ketika ada yang bertanya hukumnya merayakan Hari Ibu setiap 22 Desember, lelaki berdarah Melayu pada 18 Mei 1977 itu secara apriori menyebutnya sebagai tradisi orang kafir. "Siapa mengikuti tradisi orang kafir, kafirlah dia," ujarnya enteng.

Padahal menilik sejarahnya, Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember itu ditandai dengan digelarnya Kongres Perempuan Indonesia pada 1928. Sekitar 600 perempuan dari berbagai latar pendidikan dan usia hadir dalam kongres Perempuan Indonesia Pertama ini. Mereka kemudian bersepakat untuk memperjuangkan arah politik Indonesia guna mencapai kemerdekaan negara.



Pada 22 Desember 1953, dalam peringatan kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953, Presiden Sukarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai: Hari Ibu.



Catatan ini tentu harus diletakkan dalam kerangka ushikum wanafsi bit taqwallah. Sebagai ustad muda yang tengah digandrungi jutaan Jemaah, kritik mestinya dipahami sebagai jamu yang menyehatkan. Semoga!
(jat/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed