Mereka membaca Al-Quran di pesarean atau makam raja-raja Sumenep atau tepatnya di Asta Tinggi, Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep atau 2,5 kilo dari jantung kota ke arah barat.
Meski peziarah Asta Tinggi tidak seramai sebelum Ramadan, tapi masih ada warga yang berdatangan. Mereka memburu berkah Ramadan dengan membaca Al-Quran hingga 30 juz. Itu dilakukan di dalam kubah tempat pemakaman raja-raja Sumenep.
Raja-raja yang dikeramatkan warga antara lain, terdapat di area bagian barat yakni Pangeran Panji Pulang Jiwa (Tertua) berada di kubah paling belakang. Sedangkan Pangeran Jimad, Bindera Saod bersebelahan dengan istrinya RA Tirtonegoro berada di kubah depan.
Di area bagian timur, juga terdapat makam raja Sumenep, yakni Panembahan Simolo Hasiruddin (Putra Bindera Saod) yang mendirikan Masjid Agung Sumenep sekitar tahun 1605 M, Sri Sultan Abdurrahman (yang menemukan makam Sayyid Yusuf di Pulau Talango), Panembahan Notokusumo Moh Saleh, Pangeran Paku Nataningrat dan Prataming Kusumo.
Mereka yang menghabiskan waktu dengan membaca Al-Quran di dalam kubah tak hanya dilakukan warga muslim Sumenep sendiri. Ada juga peziarah dari Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur dan berbagai daerah lainnya.
"Kalau ke sini pada bulan Ramadan dan menghabiskan 30 juz Al Quran, selain ziarah kan bisa mendapat pahala," ujar Moh Saleh kepada detiksurabaya.com di area sebelah barat Asta Tinggi, Sumenep, Rabu (3/9/3008).
Moh Saleh ini sendiri memilih kubah yang di dalamnya ada makam Pangeran Panji Pulang Jiwa. Sebab etika peziarah yang diterapkan di makam raja-raja Sumenep ini dianjurkan mulai dari yang paling tua (sepuh). Baru pada raja-raja lainnya yang berada di kuba sebelah timur.
Bagi peziarah, dengan menghabiskan waktu membaca Al Quran menemukan ketenangan. Selain tak ada pengemis di setiap pintu masuk, pengunjung tidak seramai sebelum puasa atau nanti sebelum Lebaran. Diprediksi, peziarah mencapai ribuan orang setiap harinya selama sepekan dan puncaknya pada lebaran ketupat (7 hari setelah Idul Fitri).
Salah seorang juru kunci atau penjaga Asta Tinggi, Sumenep, H Abdul Latif, setiap kali bulan Ramadan tiba pasti ada yang berziarah. Tujuannya, membaca Al-Quran hingga selesai 30 juz (menghatamkan). Sedangkan peziarah yang datang lalu pulang, kebanyakan sebelum Ramadan.
"Peziarah yang datang ke sini tidak hanya warga Madura, tapi dari seantero Nusantara. Bahkan, dari luar negeri juga ada. Mereka selain ingin mendapatkan berkah juga ingin tahu sejarah Keraton Sumenep yang dipimpin raja-raja di sini," ujar Latif kepada detiksurabaya.com di ruang penjagaan Asta Tinggi.
Setiap hari, Asta Tinggi tidak pernah absen dari keramaian pengunjung. Selain dijadikan tempat wisata, juga tempat memunajat. Itu dilakukan semua masyarakat umum yang berstatus sosial berbeda-beda.
Diantaranya, kalangan santri, pejabat, petani, nelayan, seniman (sinden, kelompok musik tradisional saronen), wirausahawan bahkan dari kalangan blater yang hobi kerapan sapi pun datang ke tempat yang diyakini mustajabah. (fat/fat)











































