Melonjaknya harga premium di Kepulauan Kangean ini terjadi sejak dua pekan terakhir. Padahal, pada kondisi normal para pengecer premium menjual Rp 7.000 per liter.
Tingginya harga premium eceran itu, selain sulitnya untuk mendapatkan premium, juga akibat biaya transportasi laut semakin tinggi seiring dengan naiknya sejumlah kebutuhan pokok dipasaran menjelang bulan Puasa.
Salah seorang warga Desa Kolo-Kolo, Kecamatan Raas, Sumenep, A Rahman mengatakan, pengecer premium di desa-desa menjual Rp 9.000 per liter. Sedangkan di ibu kota kecamatan dipatok Rp 8.500 per liter.
"Saat ini warga pulau mengeluh dengan tingginya harga premium eceran," kata Rahman dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (27/8/2008).
Harga premium eceran yang tembus Rp 9.000 per liter juga terjadi di Kepulauan Masalembu, Sumenep. Selain harganya melambung, juga seringkali sulit di dapatkan.
"Warga pulau benar-benar terpuruk dengan harga premium yanga sangat tinggi. Apalagi, sulit didapat," ujar Purwasari (39) warga Desa Masalima, Masalembu, Sumenep.
Pantauan detiksurabaya.com, antrean roda dua dan empat di SPBU Kolor yang ada di Kota Sumenep terjadi setiap hari. Bahkan, SPBU Lingkar Timur, SPBU Pamolokan, dan SPBU Yang ada di Patean tidak beraktivitas karena kehabisan stok. Pemilik SPBU terpaksa memancang papan pengumuman yang bertuliskan "Bensin Kosong".
Sementara, Kabag Perekonomian Pemkab Sumenep Achmad Sadik mengakui jika premium seringkali kosong di sejumlah SPBU. Hal itu disebabkan dengan tingginya aktivitas warga saat ini, baik di pulau maupun di wilayah darat.
"Kalau aktivitas masyarakat tinggi, tentunya akan terjadi antrean dan stok BBM cepat habis," ujar Sadik pada detiksurabaya.com, di kantornya, Jalan dr Cipto, Sumenep. (bdh/bdh)










































