Waduk seluas 150 meter persegi ini, mengandalkan resapan air hujan dari gugusan Punggungan Merkawang yang terdiri dari Gunung Jambangan, Kolbu, Sigero dan Gunung Ogal Agil. Semuanya menjadi bagian area tambang batu kapur PT Holcim, dengan luasan sekitar 1.075 Hektar.
Posisi Waduk Sawir, berada di sebelah utara gugusan empat unit gunung tersebut. Tapak pabrik PT Holcim persis berada di sebelah timur waduk yang setiap kemarau menyusut airnya.
Sebelah selatan waduk, termasuk area tambang perusahaan semen berbasis di Negara Swiss tersebut. Sedangkan di sisi utaranya merupakan hamparan lahan pertanian produktif warga sekitar.
Kepastian penambangan di gugusan empat gunung tersebut diketahui, saat acara dialog wartawan Tuban dengan Budi Raharjo, Project Manager PT Holcim Indonesia, Direktur Manager Relation, Rusli Setiawan, Humas Holcim Deni Nuryandain, Syarif Bastaman dan Sista Paramita Hapsari konsultan dari PT ERM Indonesia di Hotel Tuban Resort, Senin (25/8/2008) malam.
Mereka menyatakan, meskipun diantara gugusan gunung tersebut bakal ditambang, namun PT Holcim telah membuat skenario agar masalah lingkungan tetap diperhatikan kelangsungannya. Apalagi studi Amdal untuk pabrik Holcim di Tuban juga sudah rampung dikerjakan ITS Surabaya.
"Jika di lokasi nanti ada goa atau sumber air, tetap bakal dijadikan area konservasi," tegas Budi Raharjo.
Rusli Setiawan menambahkan, jika ada masukan masalah lingkungan pihaknya akan membuat perubahan-perubahan, agar masalah keberadaan waduk maupun goa di sekitar tambang tetap terjaga kelestariannya.
Sementara sejumlah petani di Desa Sawir, Kecamatan Tambakboyo, Tuban yang ditemui Detiksurabaya.com Selasa (26/08/2008) pagi menyatakan, mereka mulai resah setelah menerima informasi Waduk Sawir bakal mati kehabisan air, jika Holcim menambang gugusan gunung tersebut. Apalagi selama ini waduk itu menjadi andalan irigasi petani Desa Sawir dan sekitarnya.
"Kalau benar-benar tidak terisi air, sama halnya petani di Sawir dan desa sekitarnya bakal tidak bisa bertani. Selama ini, waduk ini yang kita andalkan untuk irigasi sawah dan tegalan,” kata sejumlah petani yang ditemui di sekitar waduk.
Mereka tak bisa berbuat banyak, setelah mengetahui informasi terkait ancaman matinya waduk. Para petani mengaku, belum pernah ada informasi dari pihak Holcim, terkait masalah kelangsungan waduk tersebut. "Kami dapat informasi masalah itu dari para aktivis peduli lingkungan dan alam, yang beberapa kali meneliti waduk dan menemui petani," tambah para petani.
(gik/gik)










































