Warga di Sekitar Sumur Premium Takut Tanaman Mereka Rusak

Warga di Sekitar Sumur Premium Takut Tanaman Mereka Rusak

- detikNews
Rabu, 20 Agu 2008 18:52 WIB
Warga di Sekitar Sumur Premium Takut Tanaman Mereka Rusak
Sumenep - Meski daerahnya diprediksi terdapat sumber minyak, warga Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura bukannya gembira. Warga yang sebagian besar menjadi petani tembakau ini malah khawatir tanaman pertanian mereka menjadi rusak.

Di sekitar Desa Mandala, selain terdapat Blok Mandala I yang ada di Dusun Karang yang notabene peninggalan Belanda, di daerah itu juga terdapat sumur minyak yang ditemukan warga 5 tahun lalu diladang milik Alm Murawi. Kini sumur tersebut telah ditutup warga karena takut menimbulkan efek negatif pada tanaman pertanian.

Sumur warga yang ditutup itu, letaknya sekitar 200 meter dari sumur milik Sutamar (60) yang mengeluarkan premium sejak pertengahan bulan Juli 2008 lalu.

Penemuan lainnya yakni, sumur yang mengeluarkan cairan aspal yang hanya berjarak 300 meter dari sumur premium. Sumur aspal itu kini dibiarkan oleh warga, karena airnya bercampur aspal dan berwarna hitam.

Salah seorang warga Dusun Karang, Desa Mandala, Sumenep, Nur Iksan (40) pada
detiksurabaya.com mengatakan, warga sempat khawatir dengan banyaknya penemuan sumur yang mengandung minyal dan aspal, akan merusak pertanian di sekitarnya.

"Sejak penemuan sumur minyak 5 tahun lalu, warga sudah khawatir akan merusak
pertanian, makanya sumur itu langsung ditutup," kata Nur Iksan sambil menunjukkan lokasi sumur di Dusun Karang, Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Rabu (20/8/2008).
 
Untuk itu, ia berharap ada penjelasan dari pemerintah jika sumur premium yang ditemukan itu akan dieksploitasi.

Sementara, Kepala Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Modellir mengakui jika desanya banyak orang menyebut sebagai ladang minyak, karena terdapat sumur tua (Blok Mandala 1) peninggalan zaman Belanda.

"Tapi, warga di sini tidak tahu apa itu Blok Mandala," ujar Modellir saat ditemui di rumahnya di Desa Mandala, Sumenep. (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini