Lahan milik Sutamar (60), warga Dusun Karang, Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura ini sudah diwariskan pada anaknya, Ahmad Hoseini (28). Meski tidak akan menjual, namun tanah itu akan dikontrakan pada pemerintah bila sumber premium murni tersebut nantinya akan dieksploitasi.
Menurut Abu Hasan (36), paman ahli waris lahan mengatakan, keponakannya merasa keberatan jika lahan yang terdapat sumur premium murni itu dijual. Karena mereka sudah tidak mempunyai lahan lain untuk bertani jagung pada musim hujan, maupun tembakau pada musim kemarau.
"Kalau lahan itu dibeli pemerintah, ponakan saya tidak mempunyai lahan lain untuk bertani," ujar Abu Hasan pada detiksurabaya.com di rumahnya di Desa Mandala, Selasa (19/8/2008).
Abu menceritakan, sumur yang mempunyai kedalaman 12 meter itu digali pada awal bulan Juli 2008 lalu. Rencananya, sumur itu dibuat untuk menyiram tembakau. Namun sebelum menemukan air, ternyata mengeluarkan minyak yang mudah terbakar.
Peristiwa tersebut tentunya sangat mengejutkan warga sekitar. Bahkan, banyak warga yang sempat menggunakan minyak yang keluar untuk keperluan penerangan (lampu templek) dan memasak.
Sumur yang berada di tengah-tengah lahan tembakau itu mampu menghasilkan 10 liter selama 12 jam. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pemerintah setempat menyatakan ditutup dan dipolice line.
Selain mengeluarkan premium murni, sumur milik warga Dusun Karang, Desa Mandala, Kecamatan Rubarudi kabupaten Sumenep ternyata juga terdapat sumur lain yang mengeluarkan kandungan aspal.
Lahan yang saat ini menjadi sorotan itu berada 24 km barat kabupaten Sumenep. Bahkan jarak sumur minyak denga sumur aspal hanya berjarak 300 meter. (bdh/bdh)










































