Akibatnya, ratusan ribu pohon jarak siap petik di kawasan hutan Perhutani Tuban seluas 342,8 hektar dibiarkan rontok.
Para pesanggem yang ditemui detiksurabaya.com menyatakan, mereka menolak memanen tanaman jarak karena jika dijual harganya sangat rendah. Harga sebesar itu untuk membiayai pemetikan tidak mencukupi.
"Harga seribu rupiah per kilo yang ditawarkan Perhutani tidak nyucuk. Jadinya kami tidak mau memanen, biarkan saja tanamannya mati. Rugi Mas," ungkap sejumlah pesanggem di kawasan hutan BKPH Jadi, Selasa (19/8/2008).
Senada diungkapkan pesanggem lainnya yang tergabung di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) wilayah BKPH Merakurak dan BKPH Kerek. Pesanggem berharap Perhutani menaikkan harga jarak paling tidak sebesar Rp 2 ribu perkilo.
"Kalau harganya dua ribu ke atas per kilo, baru bisa menguntungkan petani," ungkap pesanggem lainnya.
Ditemui terpisah, Kasubsi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dan Bina Lingkungan (KSSPHBN dan Binling) Perum Perhutani KPH Tuban, Suroto menyatakan, sebenarnya harga biji jarak Rp 1.000 per kilo sudah sesuai kesepakatan dalam program kemitraan antara Perhutani, RNI dan petani LMDH. Sesuai MoU yang membeli jarak RNI, Perhutani sebatas mediasi dan penyedia lahan.
"Harga tersebut sudah sesuai kesepakatan sebelum program digulirkan. Tapi petani yang tak mau memanen, meskipun berkali-kali kita minta. Padahal kualitas tanaman dan panenannya bagus," kata Suroto saat ditemui di ruang kerjanya di kantor Perhutani KPH Tuban.
Dia menjelaskan, sesuai temuan Perhutani tanaman jarak yang ditanam mampu menghasilkan 2 kilo per batang. Perhutani pun telah menyiapkan tempat penampungan yakni di BKPH Jadi. Petani tak mau memanen tanaman jarak, karena lebih memilih menanam palawija.
Selain itu sesuai MoU juga, pihak Perhutani akan menerima bagi hasil dari lahan yang dipakai petani dengan bagi hasil 70:30. Artinya hasil penjualan jarak akan dibagi 70 persen untuk petani yang tergabung dalam LMDH dan 30 persen lainnya untuk Perhutani.
Dia mengakui, akibat ulah petani tersebut Perhutani menanggung kerugian. Sebab, harus mengembalikan bibit yang diberikan pihak RNI. Sayangnya dia enggan menyebut berapa kerugian yang ditanggung Perhutani. Kini Perhutani mulai membuat persemaian tanaman jarak, untuk mengembalikan bibit yang sudah disebar kepada petani.
Untuk program penanaman jarak untuk bahan baku biogas ini, Perhutani menggandeng PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). RNI memberi bibit jarak sebanyak 104.764 batang. Bibit ini ditanam pesanggem yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), di empat BKPH wilayah hutan Perhutani KPH Tuban.
Wilayah BKPH itu meliputi, BKPH Kerek (16,9 hektar/sebanyak 13.197 batang), BKPH Merakurak (169,4 hektar/34.607 batang), BKPH Jadi (138,9 hektar/52.586 batang) dan BKPH Plumpang (17,6 hektar/4.374 batang). Jarak yang ditanam pesanggem itu berhasil hidup hingga 80 persen, namun hingga kini tak ada yang dipanen karena harga biji jarak Rp 1.000 perkilo.
(fat/fat)











































