Terjangan ombak di laut yang menghubungkan pulau Jawa dan Bali ini datang secara tiba-tiba sehingga pemilik warung tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan isi warung.
Awalnya para pemilik warung menyangka ombak tidak akan sampai ke warung mereka. Begitu juga yang ada dipikiran Arduwi, (60) pemilik warung yang hanyut.
"Tiba-tiba ombak besar datang dan merobohkan bangunan warung saya," katanya disela-sela membersihakan puing-puing warungnya.
Pria yang sudah lebih dari 30 tahun berjualan di Watu Dodol ini mengaku
selama ini dirinya belum pernah melihat ombak sebesar itu. Inilah sebabnya kenapa dirinya tidak merasa was-was saat ombak mulai membesar.
"Meja warung saya yang saya buat dari semen cor turut rusak dan sebagian hanyut terbawa ombak," tambahnya.
Besarnya ombak ini tak berlangsung lama. Namun tetap saja, warga sekitar diliputi kecemasan khawatir terjadi ombak ganas susulan.
Hantaman ombak masih mencapai kayu-kayu yang di pancang untuk pengaman warung-warung dari hantaman ombak. Ombak yang menghantam juga masih masuk ke sejumlah warung yang berada di sekitar pantai yang berada di 13 km arah utara kota Banyuwangi ini.
Kondisi ini cukup membuat pantai Watudodol sepi dari pengunjung. Bahkan tak terlihat pengunjung di salah satu wisata pantai andalan kota gandrung ini.
"Meskipun hari ini hari libur tapi sepi, biasanya pasti ramai. Kemarin saat ombaknya agak tenang pengunjung cukup banyak," sela Riri yang juga pemilik warung di Watu Dodol. (gik/gik)











































