Kerapan sapi itu sendiri digelar di lahan kering yang dianggap jarang sekali ditanami. Ini menyimbolkan bahwa daerah tersebut sedang dilanda kekeringan.
"Jika hujan tidak pernah datang selama 2 bulan berturut-turut, kami harus mengelar kerapan sapi," kata Muksin Ketua Penyelenggara Kerapan Sapi ditemui detiksurabaya.com di lokasi, Sabtu (16/8/2008).
Berbeda dengan kerapan sapi di Madura, acara ini tidak ada pakem perlengkapan hiasan sapi. Hal ini sebagai bentuk sengsaranya masyarakat saat hujan tak lagi turun.
Sementara dari pantauan detiksurabaya.com, warga yang hadir di arena kerapan sapi membawa nasi jagung, ikan asin dan sambal kering. Seluruh anggota keluarga turut hadir dalam arena itu sebagai bentuk rasa keprihatinan.
Menurut Muksin, agar pemilik sapi kerapan datang, pihak kepala desa memberikan hadiah untuk pemenang. Hadiah berupa sapi kerapan dan beberapa hadiah menarik. "Sesungguhnya hadiah sebagai penarik, sapi kerapan yang datang dari luar kota," kata Muksin.
Sedangkan salah satu warga Desa Ranuyoso, Suto menuturkan selama 2 bulan lahan pertaniannya tidak bisa ditanami apapun, karena air hujan tak juga turun. "Kami juga kesulitan air bersih," kata Suto. (fat/fat)











































