Sikap itu itu disampaikan Indra S Singgih Notohadinegoro (62). Cucu Notohadinegoro yang saat ini tinggal di Bona Indah Jakarta Selatan mengaku semua cucu maupun keluarga tidak dikabari sama sekali soal penghargaan kepada eyangnya tersebut.
"Tentu kami sangat senang. Artinya eyang kami masih dihargai dan diingat. Namun yang kita sayangkan kenapa tidak ada pemberitahuan ke keluarga. Bagaimanapun keluarga eyang kan masih ada," kata Indra yang dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (14/8/2008).
Meski begiru, Indra yang pensiun dari USAID ini tak akan menuntut kepada pemerintah. "Tidak apa-apa kok. Cuma yang saya khawatirkan nanti ada orang yang mengaku sebagai cucu atau keluarga lalu minta uang ke pemerintah Jember," ujar dia.
Selain itu, kenapa pihak keluarga menyesalkan. Sebab kata dia, jika mendapat pemberitahuan maka pihaknya bisa meluruskan dari awal mengenai penulisan nama eyangnya yang ternyata di Jember banyak kesalahan.
"Buktinya nama eyang dipotong-potong. Mestinya gabung semua Notohadinegoro," tambah Indra yang tak lain anak tertua dari (Alm) Singgih, putra kedua Notohadinegoro.
Indra memastikan bahwa baik dirinya maupun cucu-cucu yang lain sama sekali tak mendapat pemberitahuan dari Pemkab Jember soal nama stadion dan lapangan terbang. "Sama sekali, kita sudah ketemu ya reunilah tiga bulan lalu di Bandung," ujar dia.
Menurut Indra, eyangnya itu memiliki 5 anak yang semuanya laki-laki. Mereka adalah Sugeng Notohadinegoro, Singgih Notohadinegoro, Sukanto Notohadinegoro, Harsono Notohadinegoro dan Sutomo Notohadinegoro.
"Kelimanya sudah meninggal semua. Jadi tinggal kita anak-anaknya dan kerabat dari eyang," terangnya. Dari lima putera Notohadinegoro itu, memiliki anak yang tersebar di sejumlah tempat. Antara lain di Belanda, Jakarta, Pekalongan dan Magelang."Di Jember tidak ada," tukasnya.
Sedangkan istri Notohadinegoro adalah Sunarti asli Solo. "Eyang asli Jember tapi dimakamkan di Solo dan eyang putri dimakamkan di Kediri," imbuhnya.
(gik/gik)











































