Kepastian nama itu diungkap oleh salah satu cucunya, Indra S Singgih Notohadinegoro (62) yang saat ini tinggal di Bona Indah Jakarta Selatan. "Nama eyang tidak pakai spasi. Yang benar digabung semua," kata Indra saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (14/8/2008).
Dengan banyaknya versi penulisan yang salah kaprah di Jember, Indra yang mewakili pihak keluarga meminta agar Pemerintah Kabupaten Jember untuk segera melakukan pelurusan.
"Agar tak ada lagi kesimpangsiuran. Tiga bulan lalu saat kita reuni di Bandung sempat dengar nama eyang dipakai untuk stadion. Tapi kita gak mau GR, sebab namanya kok dipisah-pisah begitu, kita ragu apa itu eyang atau bukan," jelas dia.
Seperti diberitakan, bawah nama bupati pertama ini memang diabadikan sebagai stadion dan lapangan terbang. Hanya saja, penulisan namanya banyak yang tak sama. Misalnya, di papan petunjuk ke arah bandara ditulis dengan memberi spasi, Bandar Udara Noto Hadi Negoro, padahal di lokasi lapangan terbang kelas perintis yang baru saja di uji coba itu tertera Bandara Notohadinegoro.
Lain lagi di papan penunjuk ke arah lokasi stadion. Tulisannya cukup mencolok, Stadion NT. Hadinegoro. Apakah NT itu sebuah singkatan atau bagaimana. Tak hanya itu, data di website resmi pemkab juga menulis bupati pertama Noto Hadinegoro.
"Mohon itu dibenarkan. Sekali lagi nama eyang digabung semua, tidak dipisah-pisah. Sebab nama itu cukup penting," pintanya.
(gik/gik)











































