"Mereka berasal dari organisasi pecinta alam di perguruan tinggi di Jawa Timur. Pengunjung diminta mendaftar di pos Tumpang dan Ranupani," kata Kepala bidang data dan evaluasi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Nova Elina, di kantornya Jl Raden Intan, Malang, Kamis (14/8/2008).
Peserta upacara di puncak semeru dibatasi 600 orang ditambah 10 persen peserta dari luar pulau Jawa.
Peserta diminta untuk mengikuti jalur pendakian yang telah ditentukan dan mengenakan masker dan kacamata. Alasannya, sejauh ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih belum stabil.
Gunung Semeru masih sering terjadi letusan dan mengeluarkan abu vulkanik dalam interval 20 hingga 30 menit dengan ketinggian 300 hingga 600 meter diatas kawah. Pada malam hari juga teramati guguran lava pijar yang menyembur dari kawah Jonggring Saloka.
Selain upacara di puncak Semeru, upacara juga dilakukan di Kalimati, Ranupani dan Ranukumbolo. Hal ini dilakukan untuk mencegah penumpukan jumlah pendaki yang menuju puncak Semeru. "Upacara di Kalimati, Ranupani dan Ranukumbolo tidak akan dibatasi, semua bisa mengikuti upacara," jelasnya.
Aktivitas pendakian di puncak Semeru dibuka selama 3 hari mulai 15 hingga 17 Agustus 2008. Usai kegiatan upacara, pendakian ke puncak Semeru ditutup dan hanya dibatasi sampai kalimati. Hingga kini, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Bandung menetapkan Gunung Semeru dalam status waspada.
Demi keselamatan pendaki, dua petugas khusus dari PVMBG Bandung akan turut menuju puncak Semeru untuk mengawasi aktivitas vulkanik Semeru selama upacara kemerdekaan.
Selain itu, seorang petugas dari TNBTS juga akan dtempatkan di Pos Pantau Gunung Semeru yang berada di Gunung Sawur. Hal ini, menyikapi aktivitas vulkanik Semeru yang sebelum Mei lalu dalam status Siaga dan ditutup untuk umum. (bdh/bdh)











































