Bila warga harus ke pasar atau ke pusat perekonomian di Kecamatan Kangayan, mereka terpaksa berjalan kaki dan harus berputar melewati jalur barat dengan jarak tempuh 5 jam.
Padahal, pada kondisi normal untuk menuju ke pusat ekonomi dapat ditempuh 1 jam perjalanan. Dengan kondisi jembatan rusak maka kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya lumpuh total.
Kepala Desa Tembayangan, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep, Abd Hayat mengatakan, sebenarnya 15 jembatan yang rusak itu sudah terjadi 6 tahun lalu, namun mulai lumpuh total sejak 1 bulan terakhir.
Dalam waktu 6 tahun itu, dia mengaku sudah berusaha mengkomunikasikan dengan Perhutani setempat. Sebab jembatan yang rusak itu dalam kekuasaan Perhutani wilayah Kangean Timur.
"Jadi dengan rusaknya 15 jembatan itu, Desa Tembayangan terisolir dan menyebabkan kondisi ekonomi lumpuh, pelayanan publik juga tidak terlayani secara maksimal," tegas Hayat kepada wartawan di salah satu rumah familinya, Jalan Raung, Sumenep, Kamis (14/8/2008).
Menurut dia, keberadaan 15 jembatan merupakan infra struktur pokok. Karena Desa Tembayangan berada di tengah-tengah desa lainnya yang letaknya dipisah dengan kali-kali kecil.
Di sebelah utara, berbatasan dengan Desa Cukong-Cukong, batas Selatan dengan Desa Cangkaraman, batas barat dengan Desa Batuputih dan batas timur dengan Kecamatan Kangayan.
Bahkan menuju Pulau Saobi yang menjadi salah satu pusat ekonomi juga harus ditempuh dengan perjalanan laut yang membutuhkan waktu 1 jam yang memakai perahu nelayan.
"Kondisi ini juga memperparah kehidupan ribuan warga saya," kata Hayat. (fat/fat)










































