Nama bupati yang menjabat pada tahun 1929-1942 itu saat ini digunakan untuk nama bandar udara dan stadion di kota setempat. Namun yang lucu, di rambu penunjuk jalan ke arah dua lokasi itu, nama bupati yang dipilih pasca pemerintahan Belanda pergi itu ditulis secara berbeda.
Meski terkesan remeh temeh, tapi penulisan ini cukup penting. Pengamatan detiksurabaya.com, Kamis (14/8/2008), di papan petunjuk ke arah bandara nama itu ditulis dengan ada spasi, Bandar Udara Noto Hadi Negoro.
Sementara di papan penunjuk ke arah lokasi stadion, nama itu ditulis cukup mencolok, Stadion NT. Hadinegoro. Apakah NT itu sebuah singkatan atau bagaimana?
Nah, dijamin akan semakin bingung lagi. Di website resmi milik pemerintah setempat, nama bupati pertama ini ditulis Noto Hadinegoro. Ada tiga penulisan yang tentunya tak bisa diremehkan. Tentunya, pemerintah setempat harus segera melakukan perbaikan. Dari tiga versi yang cukup berbeda itu, mana yang paling benar? (gik/asy)










































