Diduga kebakaran yang sudah berhasil dipadamkan itu akibar kecerobohan manusia. Sebab sebagian masyarakat di sekitar hutan menggunakan api untuk membakar rumput dan membersihkan ladang. Sedangkan, jika disebabkan alam, kebakaran hutan yang disebabkan faktor alam seperti gesekan ranting dan panas bumi tidak pernah terjadi.
"Kadang juga mereka memburu satwa dengan membakar rumput. Kemudian api tertiup angin dan tak terkendali hingga membesar dan membakar hutan," kata Kepala Balai Tahura R Soerjo di kantornya Jl Raden Intan Kota Malang, Rabu (13/8/2008). Hutan yang
terbakar berupa ilalang dan rerumputan tidak ada vegetasi yang terbakar.
Upaya memadamkan kebakaran hutan dilakkukan bersama masyarakat sekitar hutan menggunakan peralatan sederhana. Untuk mencegah kebakaran, Balai Tahrua R Soerjo menyiagakan 70 relawan dari 43 desa yang berbatasan langsung dengan hutan. Mereka
bertugas mengajak masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas yang menggunakan api selama musim kemarau. Kampanye ini dilakukan para relawan melalui pertemuan warga setempat.
"Relawan ini, juga dilatih untuk memadamkan api dan menyelidiki penyebab kebakaran," jelasnya. Para relawan bersiaga selama musim kemarau sejak Agustus hingga Nopember, mereka juga diberikan insentif selama melaksanakan tugasnya. Selain itu, sekitar 400 petugas Tahura R Soerjo juga terus berjaga untuk mencegah kebakaran.
Peranan relawan Tahura ini efektif, sejak dua tahun terakhir luas hutan yang terbakar terus menurun. Tahun 2006 luas hutan yang terbakar seluas 4300 Ha, sedangkan tahun 2007 turun menjadi 400 Ha.
Luas hutan Tahura R Soerjo sekitar 27 ribu Ha, yang berada di lereng Gunung Arjuno yang terletak di daerah Pasuruan, Malang, Batu, Mojokerto dan Jombang. Vegetasi yang tumbuh di Tahura R Soerjo berupa vegetasi rimba dan menjadi habitat satwa dilindungi seperti rusa, harimau dan satwa yang lainnya.
(gik/gik)










































