Desa yang mulai makan nasi aking dan gaplek, ditemukan di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Kondisi serupa ditengarai terjadi di desa-desa lain yang kondisi geografisnya kering, dengan lahan persawahan tadah hujan.
Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com dari warga menyebutkan, kondisi krisis pangan mulai dirasakan bersamaan dua hingga tiga bulan terakhir. Warga terpaksa mengganjal perutnya dengan nasi aking, atau gaplek untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Salah satu warga Dusun Gondang, Desa Prunggahan Kulon, Warsipah (30) mengaku dalam beberapa bulan terakhir ini keluarganya sering makan nasi aking untuk mengganjal perutnya.
"Daripada tidak makan, Mas. Makan nasi aking juga tidak apa-apa," kata Warsipah saat ditemui sedang membeli karak di Pasar Baru Tuban, Rabu (13/8/2008).
Menurut ibu tiga anak ini, keluarganya terpaksa mengkonsumsi nasi aking
karena gaji sebagai buruh pakan ternak bebek sekitar Rp 250 ribu per bulan, sering kali tak mencukupi membeli beras. Apalagi saat ini suaminya dalam kondisi sakit, sehingga beban keluarga dia yang menanggung.
Menurut warga, agar nasi aking memiliki cita rasa dan enak dimakan, mereka mencampurkan karak yang telah ditanak dengan urap-urap kelapa muda. Sedangkan lauknya adalah ikan asin, yang belakangan harganya murah karena sedang musim panen ikan laut.
Sementara Jasminto (53), asal Dusun Tlogopule, Desa Prunggahan Kulon menyatakan diri dan sebagian tetangganya sejak dua minggu terakhir mulai makan gaplek dari olahan singkong kering untuk makanan pokoknya.
Ini mereka lakukan karena jatah beras untuk keluarga miskin (raskin) 5 Kg per keluarga dari desa, tidak mencukupi untuk kebutuhan makan nasi beras sehari-hari.
Kepala Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Liek Soerito yang dikonfirmasi mengaku, belum mendapat laporan jika warganya mulai mengkonsumsi nasi aking dan gaplek. "Coba nanti saya akan ke dusun untuk mengetahui kebenarannya," kata Like.
Sementara Heri Jumanto, salah satu pedagang karak di Pasar Baru Tuban mengatakan, dalam sebulan terakhir penjualan karak di tempatnya meningkat. Tiap hari rata-rata mampu menjual antara 2 hingga 3 kuintal, dengan harga Rp 2 ribu per Kg.
"Langganan yang beli biasanya dari Kecamatan Semanding dan sekitarnya. Seperti dari Desa Tegalbang, Kowang, dan Desa Bektiharjo," kata Heri Jumanto.
Hal senada disampaikan Ngasirah (53), penjual karak di Dusun Klampok, Desa Prunggahan Kulon. "Sehari belakangan ini saya bisa menjual lima sampai tujuh kilo karak. Yang beli masyarakat sekitar sini saja," jelasnya. (fat/fat)










































