Menyikapi hal tersebut, belasan PCNU se Jawa Timur berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kota Kediri, Minggu (10/8/2008) malam guna menolak seruan tersebut.
Dalam pembicaraan tertutup yang diadakan di kediaman KH Idris Marzuki, sejumlah Ketua PCNU se Jawa Timur, antara lain dari Bondowoso, Surabaya, Malang, Pasuruan dan daerah lainnya, mereka menyesalkan seruan tersebut.
"Tidak semestinya Pak Hasyim bersikap demikian. Hal ini akan memicu perpecahan di tubuh NU sendiri," kata Ketua PCNU Surabaya Syaiful Muslimin kepada detiksurabaya.com.
Syaiful menambahkan, sudah tidak saatnya Hasyim Muzadi memanfaatkan kedudukannya sebagai Ketua Umum PBNU untuk mengarahkan hak politik kalangan Nahdliyin.
Menurutnya, apabila Hasyim Muzadi terus-terusan melakukan hal itu, Syaiful khawatir kepercayaan umat terhadap pemimpinnya akan luntur.
"Pilgub ini hanya kepentingan sesaat, dan utuhnya seluruh elemen di NU merupakan hal yang seharusnya lebih diperhatikan. Kalau intervensi pimpinan terus-terusan dilakukan, bukan tidak mungkin umat justru akan lari," ujar Syaiful.
Dikatakan pula oleh Syaiful, kedatangannya bersama belasan PCNU lainnya ke kediaman KH Idris Marzuki bermaksud untuk memohon petunjuk, selaku jajaran Syuriah PBNU dan representasi kiai sepuh.
Akibat munculnya intervensi itulah, menurut Syaiful saat ini di kalangan Nahdliyin banyak yang menganggap kepemimpinan Hasyim Muzadi sudah tak lagi demokratis dalam memimpin organisasi NU. Hal ini juga dinilai sebagai hal sangat fatal, terlebih NU sudah memproklamirkan sebagai organisasi non politik. (bdh/bdh)










































