Suparjo, salah satu warga setempat mengungkapkan, dirinya menemukan 100-200 pohon rimba di kawasan hutan lindung tersebut ditebang orang-orang tidak bertanggungjawab.
"Ada bekas tebangan lama tetapi juga ada yang baru, ukuran kayu besar-besar lebih dari 50 centimeter," kata Suparjo, kepada wartawan, Sabtu (9/8/2008).
Untuk menuju hutan Petung, menurutnya memang tidak mudah. Hal itulah yang membuat para pembalak liar lepas dari pantauan petugas. "Jalan kaki saja menempuh waktu 2 jam. Dan jalan satu-satunya lewat perkebunan Ketajek," lanjut Suparjo.
Tentang pelaku pembalakan, Suparjo menduga tetap dilakukan oleh para pelaku lama. Oleh karena itu dirinya meminta agar petugas lebih giat lagi memantau pembalakan liar di hutan Petung. Mengingat, Kecamatan Panti merupakan kecamatan yang menjadi serbuan banjir dan longsor pada tahun 2006 lalu.
Sementara, Administratur Perhutan Jember Taufik Setyadi mengaku telah mengerahkan anak buahnya untuk mencari lokasi pembalakan liar tersebut. "Akan kita cari dan akan kita tindak tegas para pelaku, meski itu melibatkan orang dalam," tegas Taufik. (bdh/bdh)










































