Bahkan, perairan yang dekat dengan Pulau Bali tersebut, ombak juga terlihat sangat ekstrim hingga mencapai ketinggian 4 meter.
Para pemilik perahu yang biasa disewa oleh petugas kepolisian dan Koramil setempat tidak berani melakukan penyisiran di wilayah Pagerungan dan perairan Sapeken, Sebab, gelombang dan angin kencang, Jumat pagi (8/8/2008) mengancam keselamatan jiwa.
Kapolsek Sapeken, Sumenep Iptu Moh Imron ketika dihubungi detiksurabaya.com mengatakan, pencarian korban dengan cara menyisir di seluruh perairan Sapeken dan sekitarnya untuk Jumat pagi dihentikan, karena gelombang dan angin sangat kencang dan tidak ada nelayan yang berani melaut.
"Kalau memaksa melakukan penyisiran di wilayah peraian Pagerungan maupun di Pulau Sepanjang ditakutkan akan menelan korban jiwa lagi," kata Imron.
Pencarian korban hilang, kata dia, hanya dilakukan warga nelayan dan kerabat
Pulau/Dusun Saebus. Itupun hanya dilakukan di bibir pantai dan tidak berani melakukan pencarian di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) apalagi sampai menyeberang ke Desa/Kecamatan Sapeken.
Korban yang masih dinyatakan hilang tinggal 2 orang yakni, Syukur (50), dan Misrawan (37), semuanya warga Dusun Saebus Desa/Kecamatan Sapeken, Sumenep.
Para korban hilang ini terjadi Senin lalu, (4/8/2008) saat akan mengikuti pemilihan kepala desa (Pilkades) Sapeken. Namun, di tengah perjalanan laut sekitar pukul 09.15 WIB, PM Joko Kodok yang berpenumpang 21 orang dan dinahkodai Mardano (42) warga setempat dihantam ombak setinggi 2 meter.
Karena hilang keseimbangan, akhirnya mesin PM Joko Kodok tersebut mati dan tenggelam seketika.
Akibat tenggelamnya PM Joko Kodok, tercatat 3 korban yang ditemukan tewas ditelan ombak. Sariyatin (25) ditemukan tewas seusai perahu tenggelam. Sedangkan Moh Rais (43) ditemukan hari Rabu, dan Sukawati (9) ditemukan nelayan pada Kamis kemarin. (bdh/bdh)










































