Para petani mengaku rugi besar. Satu petak kecil lahan yang seharusnya dapat laku Rp 1 juta, kali ini hanya Rp 200 ribu. Sehingga petani rugi jutaan rupiah.
Singkong yang mereka panen terlihat kecil dan sulit dikupas kulitnya. Bila akan dijual pada pengusaha keripik dipastikan tak akan laku. Para petani akhirnya mengeringkan untuk dikonsumsi sendiri sebagai persediaan makanan.
Salah seorang petani singkong, Kuswandi (50) warga Desa Sarokah mengatakan, petani singkong kini mengalami paceklik, karena produksi singkong tidak sesuai dengan harapan.
Padahal bagi sebagian warga Desa Sarokah tanaman singkong merupakan tanaman alternatif untuk menupang ekonomi keluarga termasuk bahan makanan pada waktu kemarau panjang.
"Jadi petani singkong saat ini benar-benar mengalami kesulitan hidup," tegas Kuswandi kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Desa Sarokah, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Rabu (6/8/2008).
Sebagian warga Desa Sarokah juga mengeluhkan sulitnya air bersih. Sebab, sumber air milik warga sudah sejak sebulan lalu tidak mengeluarkan air.
Untuk itu, dia meminta agar pemerintah memprogramkan pengadaan sumber air terutama di daerah yang sulit air pada kemarau panjang. Sebab, kesulitan air berdampak negatif ke kehidupan warga. (fat/fat)











































