50 Hektar Tanaman Tembakau di Sumenep Gagal Panen

50 Hektar Tanaman Tembakau di Sumenep Gagal Panen

- detikNews
Selasa, 29 Jul 2008 09:00 WIB
50 Hektar Tanaman Tembakau di Sumenep Gagal Panen
Sumenep - Petani tembakau di Dusun Sarakin Desa Pakandangan Sangrah Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura mengalami gagal Panen. Tembakau berumur 3 bulan yang seharusnya dipanen, kini keberadaannya tetap kecil layaknya baru tanam.

Penyebabnya, semua sumber air milik warga setempat yang biasa digunakan untuk menyiram tembakau tidak lagi mengeluarkan air alias kering.

Kekeringan yang melanda daerah tersebut merupakan yang terparah sejak 10 tahun terakhir. Bahkan kesulitan air bersih juga sangat dirasakan warga untuk konsumsi. Sementara akibat kekerangan ini berdampak pada beberapa desa. Seperti Desa Aeng Tongtong, Desa Aeng Baja Raja dan Desa/Kecamatan Bluto.

Sumber air terbesar yang biasa dikonsumsi warga se Kecamatan Bluto Sumenep, di Desa Aeng Baja Raja juga tak lagi mengeluarkan air. Warga pun harus mengambil air ke desa lain yang jaraknya mencapai 3 Km hingga 4 Km. Bahkan sebagian warga memilih tidak mandi 2 sampai 3 hari dalam sepekan.

Matinya sumber air di wilayah tersebut, diduga banyak penebangan kayu besar oleh warga setempat dan musim kemarau yang tergolong panjang. Sebab tahun-tahun sebelumnya, bulan Mei dan Juni masih ada hujan. Sedangkan tahun ini, wilayah Sumenep sudah masuk musim kemarau.

Salah seorang petani tembakau, Sudirman Hadi (50) warga Desa Aeng Baja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep mengatakan, dampak dari kekeringan yang melanda Kecamatan Bluto sedikitnya 50 hektar tembakau gagal panen. Semuanya, terdapat di dataran tinggi yang biasa menghasilkan tembakau berkualitas.

Kondisi tembakau yang kekurangan air itu tetap terlihat hijau. Namun keberadaan daun dan batangnya terlihat kecil. Sehingga tidak laku dijual karena tidak bisa dijadikan tembakau rajang.

"Petani tembakau saat ini benar-benar terpukul dengan kondisi air saat ini. Sebab, kerugian sudah jelas mencapai Rp 5 sampai Rp 7 juta dalam perhektarnya," kata Sudirman di rumahnya, Desa Aeng Baja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep kepada detiksurabaya.com, Selasa (29/7/2008).

Dia mengaku kekeringan yang melanda Kecamatan Bluto akibat banyaknya penebangan kayu-kayu besar di sekitar sumber. Bahkan, pohon besar di sebelah Sumber Aeng Baja Raja juga ditebang.

Meski begitu dirinya meminta pemerintah agar selalu aktif melakukan penyadaran kepada masyarakat agar berperilaku baik terhadap lingkungan. "Kalau jangka pendeknya, warga saat ini butuh suplai air bersih," ujarnya. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini