Di kepulauan, ada 6 kecamatan yang masuk kategori kekurangan air bersih dan 9 kecamatan berada di daratan. Kekeringan itu terjadi saat masuk musim kemarau panjang.
Akibatnya, warga yang berada di pesisir harus mengkonsumsi air laut dan sebagian mengkonsumsi air hujan yang sengaja disimpan dalam tandon besar sejak musim hujan lalu.
Bahkan, di Kecamatan Batuputih yang terdiri dari 14 desa, 6 desa diantaranya kering kerontang. Warga setempat terpaksa mengkonsumsi air hujan yang sudah berubah warna karena lamanya disimpan dalam tandon besar. Hal serupa juga terjadi di 4 desa Kecamatan Kangayan dan 5 desa di Kecamatan Pasongsongan.
Salah seorang warga Desa Gedang-Gedang Kecamatan Batuputih, Sumenep, Ny Watik (47) mengaku setiap hari terpaksa mengkonsumsi air hujan yang sudah berubah warna. Sebab sumur warga tidak lagi mengeluarkan air. Kalaupun ada sumber air harus berjalan kaki hingga 4 km.
Menurut dia, warga sudah merusaha mencari mata air untuk digali maupun dibor. Namun, jarang yang berhasil menemukan. Sebab, selain banyak penebangan pohon besar juga masuk daerah sulit air.
"Sumur warga hanya mengeluarkan air saat musim penghujan," kata Watik pada detiksurabaya.com, di rumahnya, Desa Gedang-Gedang, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Rabu (24/7/2008).
Kekurangan air, kata dia, juga berimbas pada persediaan minuman untuk hewan ternak, seperti kambing dan sapi. Hewan ternak ini terpaksa harus diberi makan pohon pisang, selain tidak ada air juga rumput dan tanaman untuk pakan ternak sudah habis.
"Kalau sudah musim kemarau, kering kerontang, Mas!," katanya memelas.
Sementara Wakil Bupati Sumenep, Moch Dahlan mengakui jika sejumlah daerah mengalami kekurangan air bersih saat musim kemarau tiba. Namun tidak separah seperti yang banyak disampaikan orang.
"Kekurangan air bersih itu pasti ada dan pemkab tetap akan membantu sesuai dengan laporan dari aparat setempat," kata Dahlan saat dihubungi wartawan.
(fat/fat)











































