Makanan yang diberikan ke warga itu berupa nasi, ayam dan urap-urap. Mereka mulai terlihat tanda-tanda keracunan sejak Minggu (20/7/2008) malam yakni, mules, demam, muntah, diare dan mual-mual.
Para korban pun langsung dilarikan ke tiga rumah sakit yakni, RS Shuhadak Jalan Tanjung, Blitar. Sebagian dilarikan ke Puskesmas Ponggok dan RS Ananda-Srengat. Namun para korban terus berdatangan hingga siang ini, Selasa (22/7/2008).
"Sebanyak 12 warga dirawat di Puskesmas Ponggok, 2 warga dirawat di RS Shuhadak dan 1 warga di RS Ananda-Srengat. Sedangkan 22 warga sudah menjalani rawat jalan setelah mendapat perawatan di puskesmas," kata pelaksana gizi Puskesmas Ponggok, Kamin Asroni di kantornya Jalan Raya Ponggok kepada wartawan.
Kamin menjelaskan, pihak puskesmas mendapat laporan dari warga jika banyak orang yang mual dan muntah-muntah pagi tadi. Setelah dicek, pihaknya pun mengirim segera ambulans ke dusun yang jaraknya sekitar 2 KM dari lokasi.
Warga yang mengalami kondisi yang parah dirujuk di beberapa rumah sakit terdekat. Sementara sebagian lagi diperbolehkan pulang dan hanya menjalani rawat jalan.
Salah seorang warga bernama Ulfa (25) mengaku setelah dirinya makan makanan hajatan tersebut tidak ada pengaruh sama sekali. Namun sehari setelah makan, perutnya mual dan muntah terus-terusan.
"Malah suami saya, Giyanto (26) dan anak saya Intan (2,5) juga ikut-ikutan muntah tanpa sebab pagi tadi," jelasnya mengenang saat mendapat perawatan di Puskesmas Ponggok.
Sementara Miatun yang menggelar kenduri juga mendapat perawatan di puskesmas. Kondisinya pun juga lemah dan lemas. Namun dirinya diperbolehkan pulang dan rawat jalan, setelah kondisinya membaik.
"Di keluarga saya ada dua orang yang terkena muntaber. Kemungkinan karena saya masaknya kurang bersih dan kurang matang, akhirnya warga tertular dan akhirnya seperti sekarang," tambahnya. (fat/fat)











































