Akibatnya, ribuan petani yang sudah mulai bertanam tembakau dan jagung sejak awal bulan lalu kelimpungan. Para petani mengaku bingung dengan kekurangan stok pupuk di pasaran dalam 2-3 pekan terakhir.
Sembilan kecamatan yang mengalami kekurangan pupuk jenis urea itu adalah Kecamatan Arjasa, Jelbuk, Patrang, Kalisat, Sukowono, Ledokombo, Mayang, Sumberjambe, dan Pakusari.
"Sudah sekitar 3 minggu sulit dapat pupuk urea. Kalaupun di agen atau penyalur resmi di Jember ada stok, harganya pasti di atas HET," kata Koordinator Kelompok Tani Kecamatan Arjasa, Yusuf, Sabtu (19/7/2008).
Selain itu, tambahnya, jika ingin mendapat pupuk sesuai kebutuhan, petani juga harus membayar 'uang muka' kepada agen atau penyalur. Menurutnya, dalam dua pekan terakhir para petani di kawasan utara Jember sudah kesulitan mendapatkan pupuk. Padahal, sebagian besar petani sudah mulai menanam tembakau dan jagung.
Petani menuding ada permainan atau ulah oknum yang tak bertanggungjawab dengan memanfaatkan situasi demi mengeruk keuntungan dalam kasus ini.
"Dalam tahun ini saja ada 4 kasus ribuan ton pupuk urea bersubsidi ditimbun dan dioplos dengan pupuk palsu, atau penyelundupan pupuk bersubsidi ke luar wilayah," tegas Koordinator Forum Komunikasi Petani Jember (FKPJ), Jumantoro.
Untuk mengatasi masalah ini, Jumantoro berharap agar pemerintah Kabupaten Jember segera mangambil langkah darurat untuk melakukan lobi kepada Pemerintah Provinsi, agar ada penambahan kuota pupuk.
"Selain itu, Dinas Pertanian harus merubah sistem Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang selama ini tidak realistis dan merugikan petani," tambahnya. (fat/fat)











































