Api alam yang sering disebut api tak kunjung padam menjadi alternatif untuk memasak dan keperluan lainnya. Pantauan detiksurabaya.com, sebanyak 45 kepala keluarga (KK) memanfaatkan api alam tersebut.
Salah seorang ibu rumah tangga, Nira (47) warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan mengatakan warga sekitar api alam tidak pernah menggunakan BBM. Sebab, selain sulit mendapatkan juga harganya semakin sulit dijangkau.
"Beruntung, Mas! ada api alam ini, sehingga tidak terlalu susah menjalani hidup saat harga BBM melambung dan sulit mendapatkan," kata Nira kepada detiksurabaya.com di area api alam, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Minggu (13/7/2008).
Api alam yang juga menjadi salah satu tempat wisata Kabupaten Pamekasan ini juga dimanfaatkan untuk membakar jagung, ketela pohon, ubi (bentol) dan jenis umbi-umbian lainnya.
Saat musim hujan, warga juga tidak khwatir api alam itu padam. Sebab, api yang menjadi icon kota Pamekasan tersebut tetap panas dan mengeluarkan kobaran seperti layaknya disiram minyak tanah.
Menurut warga lainnya, Santoso (49) setiap liburan pengunjung wisata api alam tersebut sangat ramai. Tidak hanya berasal dari Madura, melainkan kota-kota besar di Nusantara. Namun, dirinya menyayangkan minimnya perhatian pemerintah setempat. Pasalnya, pemeliharaan di area api alam kurang maksimal.
"Seandainya, pembangunan di sekitar api alam ini maksimal, pengunjung akan lebih menikmati keindahan api alam ini," kata Santoso pada detiksurabaya.com di sebelah barat area api alam.
Dari pantauan detiksurabaya.com, api alam itu sehari-harinya dijubeli oleh masyarakat sekitar selama 24 jam. Mereka berjubel menunggu giliran untuk memanfaatkan api alam tersebut. Api itu dikelilingi sebuah pagar besi sepanjang 5x5 meter. (fat/fat)











































