Pantauan detiksurabaya.com di lokasi menunjukkan, di desa yang berlokasi di lereng Gunung Wilis sedikitnya 3.250 warga dari 450 KK menetap dan hidup dengan segala aktivitasnya mulai meeasakan kekeringan.
"Sejak nenek moyang ya ini tempat tinggal kami dan musim kemarau pun di sinilah tempat kami menetap," kata Kasmi (48) dalam Bahasa Jawa halus, salah watu warga Desa Bobang menceritakan tentang tempat tinggalnya, Sabtu (5/7/2008).
Dia menceritakan, bukan hanya musim kemarau yang dirasakan warga sebagai siksaan. Bahkan di musim penghujan pun warga di lokasi sangat kesulitan mendapatkan air.
Saat ditanya jika warga tidak berusaha membuat sumur sebagai mata air di masing-masing rumah, Kasmi mengaku hal itu sesuatu yang mustahil.
"Kalau membuat sumur modal 5 juta belum tentu dapat air dan ketika menggali pun kedalamannya bisa mencapai 50 meter. Daripada buang-buang uang ya berharap pada mata air di sungai saja," cerita Kasmi.
Mengatasai kesulitan air, menurut Kasmi warga bergotong royong kembali menggali mata air yang mulai mengering. Dari hasil penggalian itu, air dialirkan melalui pipa-pipa ke rumah warga dan dilakukan sistem giliran dalam pembagiannya.
"Warga di Dusun Bobang biasanya kebagian pagi hingga sore. Dan di sini di Dusun Kembangan air akan dialirkan sore hingga pagi hari. Itupun kadang kami sudah kehabisan air," katanya dengan mimik wajah serius.
Sementara Misringah (35) ibu muda dengan 2 putra saat ditanya tentang kondisi kesulitan air di desanya mengaku, hanya menerima dan berharap saat giliran pipa air yang menuju rumahnya dibuka, air masih bisa mengalir.
Namun dia tetap bersukur karena warga di sekitar selalu rukun dalam berbagi air.
"Ya kalau nggak kebagian minta tetangga. Kami sudah biasa melakukan hal itu, karena memang inilah kondisi di desa kami," katanya dibenarkan beberapa warga lainnya.
Dengan kondisi sulit air seperti saat ini, Misringah mengaku kebutuhan untuk makan dan minum lebih diutamakan. Untuk urusan kebersihan, bukan prioritas utama.
"Yang penting untuk makan dan minum ada. Kalau mandi ya kadang hanya pagi dan mencucinya sebersih-bersihnya dilakukan di sungai," ceritanya.
Ironis, kondisi sulit air di Desa Bobang, Kecamatan Semen yang diakui warga sebagai bencana tahunan, sangat minim perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kediri. Hal ini seperti pengakuan Kepala Desa Bobang, Yatiran (45) saat bercengkerama dengan detiksurabaya.com.
"Selama saya menetap di sini dan akhirnya menjabat kepala desa, baru sekali kami mendapatkan suplai air dari Pemkab. Bahkan untuk membuat saluran air saja, warga di sini harus urunan sendiri," tegas Yatiran.
Yatiran berharap dengan pemberitaan di media massa, Pemkab bisa melihat kondisi kesulitan air bersih yang dialami warga di desanya. (fat/fat)










































