Persediaan air dari sumur milik warga di tiga pulau itu sejak sebulan terakhir alami penyusutan. Saat ini sudah kering kerontang. Warga kesulitan untuk mendapatkan air minum sehari-hari.
Meski sebagian warga berusaha menggali dan mencari sumber air, namun usaha itu sia-sia. Sebagian besar penduduk banyak yang mencari ke luar daerah. Bahkan, ada yang mendatangkan dari daratan dengan cara dimuat lewat perahu motor.
Namun, hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh sebagian kecil warga. Sebab, untuk menjalankan perahu motornya, warga harus berfikir dua kali, karena BBM juga sulit didapat.
Pulau yang diliputi kekeringan juga menghentikan aktivitas pertanian. Buah-buahan dan sayuran yang ditanam di sawah dan tegalan dibiarkan mengering.
Terparah kekeringan melanda Kepulauan Gili Genting, tepatnya di empat desa yakni Desa Ben Maleng, Lombeng, Jate dan Ban Baru.
Salah seorang warga Desa Ban Baru, Kecamatan Gili Genting, Sumenep, Edy Junaidi mengatakan, kekeringan yang terjadi kali ini sangat menyulitkan warga. Sebab, setiap hari masyarakat hanya disibukkan dengan mencari ke desa tetangga yang jaraknya 6 hingga 7 km. Itupun harus ditempuh dengan jalan kaki.
Sebagian warga juga mengambil air ke wilayah daratan, yakni Desa Kopedi, Pakandangan, Cangkareman, Kecamatan Bluto. Dan harus ditempuh melalui perjalanan laut selama 1,5 jam jika cuaca normal.
"Hidup di pulau kekeringan susah, Mas!. Apalagi menimpa setiap musim kemarau datang dan berlangsung hingga bulan Agustus dan kadang sampai September," kata Edy dihubungi detiksurabaya.com, Minggu (29/6/2008).
Hal serupa juga diungkapkan Zaini (40) warga Desa Saobi, Kecamatan Kepulauan Kangayan, kondisi kekeringan lazim terjadi dalam setiap musim kemarau. Untuk mendapatkan air, warga harus rela antre dan menunggu seharian di sumur warga yang masih mengeluarkan air.
"Kekurangan air bersih sudah pasti terjadi setiap tahun. Air laut kadang menjadi alternatif untuk mencuci pakaian dan perabot dapur," kata Zaini.
Sementara, anggota DPRD Sumenep, asal Kepulauan Gili Genting, M Hafidz mengakui jika sejumlah kepulauan mengalami kekeringan seiring dengan datangnya musim kemarau.
"Kekeringan pasti terjadi kalau musim kemarau sudah tiba. Sebab, sumber air sudah menyusut dan ada yang kering," kata Hafidz.
Politisi FKB ini berharap pada warga agar saat musim penghujan atau selama ada air bersih hendaknya menampung ditempat yang besar (Bak Air), sehingga saat musim kemarau tiba tidak terlalu kesulitan mencari air untuk kebutuhan memasak dan aktivitas lainnya.
"Kalau warga bisa menampung air dalam skala besar, maka saat musim kemarau datang tidak akan terlalu kesulitan seperti saat ini," katanya. (fat/fat)











































