Bahkan hantu pocong yang meresahkan sejak 8 hari terakhir ini disebut-sebut berkelamin perempuan itu selalu muncul sekitar pukul 20.00 WIB. Ia selalu gentayangan hingga pagi dan raib begitu kumandang Adzan Subuh terdengar.
"Saya bertemu langsung kemarin (Senin,23/6/2008) malam sekitar pukul setengah sembilan malam. Waktu itu saya sedang SMS di belakang rumah, tiba-tiba ia muncul di depan saya," kata Nuril (19), pemuda desa setempat yang ditemui sejumlah wartawan di desanya.
Menurutnya, begitu muncul sang pocong membuka penutup wajahnya secara perlahan. Setelah itu tampak wajahnya kemerahan dengan luka sobek di bagian kirinya. "Dari mukanya ia seperti perempuan muda yang bagian kiri wajahnya rusak seperti dibacok," kata Nuril.
Nuril pun heran dengan kemunculan pocong di depannya. Nuril mengaku tak takut dan sempat bertanya ke si pocong yang mendatanginya. "Saya datang untuk mencari makan," jawab si pocong seperti ditirukan Nuril. Setelah itu, sang pocong melompat ke atas dan menghilang di kegelapan malam.
Sedangkan Gunawan, warga lain, mengatakan, pocong itu sempat berada di samping rumahnya. Namun saat dikejar pocong melompat sejauh 3-4 meter dan menghilang.
"Saya tahu karena ikut mengejar pocong. Hantu pocongan itu melompat dari atap ke atap rumah penduduk di malam hari. Sampai sekarang kami belum berhasil menangkapnya," kata Sunar, Ketua RW di Dusun Ngaglik, Desa Karangagung.
Menurut Sunar dan Gunawan, setiap malam warga tetap berjaga. Sebisa mungkin bisa menangkap pocong yang terkesan menantang warga tersebut.
Dikatakan, sang pocong selalu muncul setiap malam dengan posisi kemunculannya berbeda-beda. Terkadang di dekat perahu, terkadang di tanah lapang. Yang sering muncul di sekitar rumah warga. Begitu muncul langsung diuber warga, agar tidak sampai masuk ke rumah penduduk.
"Kami menduga pocong yang muncul merupakan pocong jadi-jadian. Pertama muncul ketikaada warga di kampung ini menjual perahu seharga Rp 200 juta, tiba-tiba malamnya muncul pocong tersebut," kata Sunar di samping Gunawan yang menolak menyebut nama warga yang menjual perahu tersebut, dengan alasan khawatir menimbulkan fitnah yang macam-macam. (gik/gik)











































