Puluhan Rumah Nelayan Rusak Dihantam Gelombang

Puluhan Rumah Nelayan Rusak Dihantam Gelombang

- detikNews
Senin, 23 Jun 2008 11:57 WIB
Tuban - Puluhan rumah warga di kampung nelayan Desa Sukolilo dan Bulu, Kecamatan Banacar, Kabupaten Tuban rusak akibat dihantam gelombang perairan Pantai Utara (Pantura) Tuban, Minggu malam.

Rata-rata kerusakan bangunan yang berada di bibir pantai itu pada bagian dinding, pondasi dan atap rumah. Kondisi bangunan yang tergerus saat ini retak-retak dan sebagian lainnya nyaris roboh.

Gelombang pasang yang mengikuti angin kencang, sebenarnya sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Warga menyebut, angin kencang yang terjadi saban malam ini merupakan angin salah mongso (datang tiba-tiba di luar musim), yang terkadang terjadi di pesisir Pantura Tuban.

"Ini termasuk angin salah mongso. Untungnya saat ini bulan sedang terang, sehingga kita tidak melaut karena ikan sepi," kata Asri, nelayan setempat yang ditemui detiksurabaya.com, di pantai Desa Sukolilo, Senin (23/6/2008) siang.

Menurutnya, dalam sebulan terakhir air laut pasng berlangsung pada malam hari. Hampir dapat dipastikan selalu disertai munculnya gelombang besar yang menghantam dinding rumah warga. Tak jarang, percikan gelombang juga menghantam atap hingga masuk ke dalam rumah.

Para nelayan di Sukolilo dan Bulu, menurut dia, masih beruntung. Sebab, di bibir pantai setempat telah dibangun plengsengan oleh Pemprov Jatim. Proyek yang sudah menyelesaikan sekitar 800 meter ini, cukup mampu menahan gelombang.

"Kalau tidak ada plengsengan, mungkin pengaruhnya bisa menghanyutkan rumah warga," ungkap Zamrozi nelayan Bulu lainnya.

Kendati begitu, proyek plengsengan penahan gelombang yang kini masih berlangsung itu, tidak serta merta dapat menghapus kekhawatiran warga. Para nelayan tidak sepenuhnya yakin tanggul tersebut mampu menahan hempasan demi hempasan besarnya gelombang yang menyertai air laut pasang.

Mereka berharap, proyek plengsengan dilanjutkan dengan proyek pembangunan atau pengadaan peralatan pemecah gelombang. Perangkat itu, bisa dipasang beberapa ratus meter menjorok ke laut, sehingga mampu memecah gelombang pasang yang datang.

Kini sekalipun mereka tidak melaut, namun para nelayan berebut tempat sandar perahu. Itu terjadi kartena pelabuhan sandar yang di bangun Pemkab Tuban, sampai saat ini tak kunjung rampung. Bahkan, terkatung-katung.

"Kalau bisa kami meminta agar proyek pelabuhan sandar perahu disini, segera dilanjutkan hingga tuntas. Lihat saja, mau mengikat tali perahu saja kalau sudah gelombang pasang terjadi, kami harus rebutan," papar sejumlah nelayan. (bdh/bdh)
Berita Terkait