Ribuan batang yang diambil dengan memanjat dan memasukkan dalam sak beraneka warna bunganya. Diantaranya warga hitam, biru, merah maron, merah darah, putih kemerahan dan sejumlah warna lain. Bentuk bunganyapun ada yang melingkar seperti daun, segitiga hingga berbagai jenis bentuk lainnya.
Batangan bunga anggrek yang nempel di Pohon Serut dan Trenggulun yang berusia ratusan tahun ini, dipelihara pecinta alam desa setempat. Warga desa tak berani mengambil bunga yang tumbuh alami karena takut 'penghuni' makam marah.
Batangan pohon anggrek itu pun jadinya, tumbuh subur dan berkembang hingga memadati 16 pohon Serut dan 13 pohon Trenggulun. Praktis karena perawatan, menjadikan anggrek kian subur dan menggiurkan siapapun yang melihatnya.
Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com dari warga Kembangbilo menyebutkan, aksi pencurian diketahui warga Kamis (19/6/2008) sore. Kala itu ada tiga mobil pick up memuat puluhan sak ke luar dari kompleks makam.
Kendaraan tersebut melaju beriringan dengan kecepatan lumayan tinggi, menghilang ke arah kota Tuban.
Warga yang curiga, langsung mendatangi makam. Ternyata di bawah pohon Serut masih tersisa tiga sak isi batangan anggrek yang belum sempat diangkut. Sejak itu pula, warga Desa Kembangbilo gempar karena anggrek yang mereka jaga selama ini digasak kawanan maling.
Menurut Muhammed Safuan (22), tokoh pemuda yang juga pecinta alam Desa Kembangbilo, seluruh bunga anggrek yang tumbuh subur di kompleks makam desa itu dulu pernah ditawar pedagang bunga hingga Rp 160 juta. Namun, warga menolak karena khawatir punden 'penghuni' makam marah.
"Selain itu kami sepakat tidak menjual anggrek tersebut, karena akan menjadi warisan leluhur. Namun, sejak kemarin sore ternyata ada yang berani mengambilnya. Ini yang membuat warga marah," kata Safuan di samping Masduki warga setempat di kompleks makam Desa Kembangbilo, Jumat (20/6/2008) pukul 07.30 WIB.
Sebenarnya, kata dia, beberapa kali ada yang mencoba mengambil tanaman langka tersebut. Namun selalu digagalkan warga, hingga akhirnya warga kecolongan anggrek itu diambil kawanan maling.
Kini warga melakukan pengejaran dan pencarian bunga yang sudah hilang tadi. Mereka membentuk kelompok pencarian ke penjual-penjual bunga di wilayah Kabupaten Tuban.
"Semoga saja anggrek yang sudah dicuri itu bisa kita bawa kembali ke kompleks makam. Ini upaya kami mempertahankan warisan leluhur," tegas Safuan. (fat/fat)











































