Dari data yang dihimpun, lumpur liar yang mulai menyebur sejak 29 Mei 2006 lalu ini sudah menenggelamkan 12 desa, 34 gedung sekolah, dan 87 industri skala rumahan hingga skala pabrik besar. Bahkan sekitar 60 ribu orang terusir dari desa mereka.
Sayangnya, meski beberapa upaya penyumbatan dilakukan oleh Timnas penanggulangan lumpur seperti relief well, snubbing unit yang menghabiskan dana US$ 55.212.362 hingga bola-bola beton telah dicoba, namun lumpur liar ini tetap saja belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti menyembur.
Bahkan, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang dibentuk pemerintah untuk menangani semburan pun juga tidak menunjukan kerja yang maksimal. BPLS yang didanai ratusan miliar ini hanya mengantisipasi agar lumpur tidak semakin meluas dan memperkuat tanggul-tanggul penahan lumpur yang berada di sekitar semburan.
Kini, kawasan tersebut semakin berbahaya. Sedikitnya 15 kali tanggul penahan lumpur jebol dan menggenangi desa yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari pusat semburan. Hingga pertengahan Mei 2008, sedikitnya ada 90 semburan air bercampur lumpur (Bubble) baru yang muncul di sekitar rumah warga.
Bubble-bubble yang muncul di sekitar Desa Siring Barat dan Jatirejo ini selain mengeluarkan air bercampur lumpur, juga mengeluarkan gas yang mudah terbakar. Akibat gas yang keluar bersama semburan air ini, beberapa bangunan warga di Desa Jatirejo sempat terbakar. Bahkan baru-baru ini, beberapa pekerja mengalami luka bakar akibat terkena semburan api dari gas yang terbakar.
Foto: Foto diambil 29/7/2006/File Budi Sugiharto-detiksurabaya.com (bdh/bdh)











































