BBM Mahal, Korban Banjir Situbondo Makan Nasi Aking

BBM Mahal, Korban Banjir Situbondo Makan Nasi Aking

- detikNews
Rabu, 28 Mei 2008 15:33 WIB
BBM Mahal, Korban Banjir Situbondo Makan Nasi Aking
Situbondo - Korban banjir bandang yang masih bertahan di bantaran sungai, kini mulai mengkonsumsi nasi aking. Mereka makan nasi basi yang sudah dikeringkan tersebut sejak 3 hari berselang.

Kian tak terjangkaunya pembelian kebutuhan sembako, menjadi faktor yang mendorong mereka untuk mengkonsumsi makanan tak layak tersebut. Sejak kenaikan harga BBM, kondisi ekonomi para korban bencana banjir bandang ini semakin terpuruk saja.

"Jangankan untuk memikirkan membangun kembali rumah yang hancur terseret bandang, untuk makan kebutuhan sehari-hari saja kami sangat kesulitan, Pak," kata Imam Bachri (39), salah seorang korban banjir bandang yang kini masih bermukim di bantaran sungai Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, Situbondo, Jatim, Rabu (28/5/2008).

Buruknya kondisi ekonomi para korban bencana di Kelurahan Ardirejo ini bukan saja karena belum disiapkannya relokasi pengganti pemukiman mereka. Namun juga belum pulihnya kehidupan sehari-hari, karena belum cairnya bantuan dana yang selama ini dijanjikan pemkab.

Suyono (47), Ketua RT Dusun Capore, mengakui kalau dalam sepekan terakhir sebagian warganya mulai mengonsumsi nasi aking. Ini terpaksa dilakukan warganya karena mereka sudah tidak mampu lagi beli beras dan kebutuhan pokok lainnya yang harganya melambung.

"Berbagai bantuan yang katanya hendak dikucurkan kepada kami, ternayata hanya janji-janji semata. Bantuan yang kami terima hanyalah berupa sembako, itu pun kami terima beberapa saat setelah banjir bandang," katanya.

Di Kelurahan Ardirejo, khususnya Dusun Capore dan Bantungan, ratusan rumah hancur dan terhanyut banjir bandang 8 Februari 2008 silam. Saat ini mereka masih tetap bertahan di reruntuhan bangunan rumahnya dengan membangun rumah gedhek dan tenda, sembari menunggu relokasi yang dijanjikan pemerintah.

Sekretaris Satlak PB Situbondo, Drs Wiyono saat dihubungi detiksurabaya.com, menyatakan bahwa pembangunan relokasi terbagai dalam dua kawasan dengan jumlah total 174 unit rumah.

"Untuk pemukiman relokasi di Desa Sliwung berjumlah 38 unit dan sisanya dibangun di kawasan relokasi Desa Sumberkolak. Hingga kini kami belum tahu kapan hunian relokasi itu akan dibangun. Yang pasti dalam waktu dekat, karena pembebasan tanahnya sudah selesai," katanya.

Foto: salah satu korban banjir tengah menjembur nasi basi untuk nantinya dikonsumsi/Irwan Yulianto (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait