Di tingkat eceran pupuk jenis urea dari semula seharga Rp 85.000 per sak isi 50 kg, merangkak menjadi Rp 115.000 per sak. Bukan itu saja, pupuk pun tidak bisa diperoleh secara cepat, karena petani harus antre terlebih dulu di kios-kios pengecer dan agen pupuk.
Rata-rata para petani harus menginden atau antre membeli selama dua hingga tiga hari. Kondisi ini terjadi karena pengiriman pupuk dari pabrikan tersendat.
Sentra pertanian sawah yang saat ini memulai pemupukan antara lain di wilayah Merakurak, Montong, Jenu, Tambakboyo, Singgahan, Senori dan Kerek. Sejumlah wilayah kecamatan ini merupakan sentra pertanian Kabupaten Tuban bagian barat.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah sentra pertanian Tuban bagian timur dan selatan. Antara lain di wilayah Kecamatan Plumpang, Rengel, Soko dan Kecamatan Parengan. Meski belum merata namun, saat ini petani sudah memulai melakukan pemupukan.
"Saya baru dapat pupuk urea setelah dua hari antre di kios pengecer di Merakurak. Saya harus absen mencatatkan nama dan meninggalkan KTP, baru dilayani," kata Sunarko (47), petani asal Tuwiri Kulon, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban saat ditemui detiksurabaya.com di sela-sela memupuk sawahnya, Selasa (27/05/2008) pukul 08.10 WIB.
Hal serupa diungkapkan, Ali Imron (39) petani asal Desa Jetak, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Dia mengatakan sebenarnya para petani tidak mempermasalahkan kenaikan harga, asal pupuk tersedia dan mudah didapat.
"Alasan penjual pupuk, naiknya harga akibat kelangkaan dan kenaikan harga BBM. Kami menyadari karena untuk mengangkut pupuk butuh transportasi. Tapi tolong jangan terlalu tinggi kenaikannya, karena kemampuan petani kan juga terbatas," kata Ali Imron di desanya.
Para petani lain di wilayah berbeda menyebut, kenaikan harga pupuk jenis urea di Tuban saat ini sudah tidak masuk akal. Sebab, kalau kenaikan harga BBM sebesar 28,7 persen mestinya kenaikan harga pupuk juga menyesuaikan.
"Namun yang terjadi pengecer menaikkan harga tanpa melihat kondisi petani. Mereka mestinya juga tahu, kalau dua bulan lalu, sawah kami kebanjiran sehingga kami benar-benar tidak memiliki modal untuk membeli pupuk yang harganya mahal," kata Sutomo (54) petani asal Desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban secara terpisah.
Sedangkan para pengecer pupuk yang ditemui menyatakan, mereka terpaksa menaikkan harga karena di samping biaya transportasi naik, harga kulakannya juga naik. "Kami sebenarnya sangat terpaksa menaikkan harga. Jika tidak, kami sendiri yang merugi," kata Subianto pengecer pupuk asal Rengel.
Foto: Reza Pahlevi (bdh/bdh)











































