Kasus difteri yang menyerang anak usia 1 hingga 12 tahun itu diakibatkan bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae (C diphtheriae). Dari 10 anak tersebut, dua anak tewas warga dari Desa Lapa Loak, kecamatan Dongkek yakni, Hozaimah (8) dan Atika (5).
Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sumenep, Dr Samsu Hadi Widjojo mengatakan untuk tahun ini kasus difteri termasuk KLB dibanding tahun sebelumnya.
"Dibandingkan tahun 2007 yang berjumlah 13 anak, kasus difteri tahun ini selama kurang lebih 5 bulan sudah mencapai 10 anak. Sedangkan tahun 2006 mencapai 6 anak. Ini membahayakan," katanya kepada detiksurabaya.com saat di kantornya Jalan dr Soetomo, Sumenep, Selasa (27/5/2008).
Dari hasil penelitian terhadap pasien difteri akibat bakteri mematikan yang menyerang anak-anak, karena rata-rata bayi yang tidak diimunisasi lengkap. Tanda-tandanya yakni tubuh demam dan terjadi suhu yang panas pada tubuhnya. Lambat laun, tiba-tiba pasien mengalami penyumbatan dan pembengkakan saluran pernafasan atas dan menyerang jantung.
"Jika balita (bayi dibawah lima tahun) yang imunisasinya lengkap, lebih kebal terhadap penyakit difteri," ujar Samsu.
Upaya pemberantasan kasus difteri, lanjut dia, sudah dilakukan sejak dini. Petugas kesehatan sudah melakukan kegiatan surveylan atau pengamatan. Khususnya pada orang-orang terdekat dengan penderita dan mengambil sample usap tenggorokan dan usap hidung untuk dicek.
"Tapi masih saja ada pembawa bakteri difteri (carier) yang terlewati," paparnya.
Sementara seorang pasien difteri bernama Putri Lugita Sari (8) warga Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, Sumenep masih menjalani perawatan intensif di RSU dr Moh Anwar Sumenep selama 10 hari. (fat/fat)











































