Misalnya, harga daging ayam mengalami kenaikan 20 hingga 30 persen. Naiknya harga daging ayam ini dipicu oleh naiknya biaya transportasi pengiriman. Sehingga membuat pedagang resah.
Pantauan detiksurabaya.com di pasar tradisional terbesar di Lamongan, yaitu di Pasar Sidoharjo, para pedagang daging ayam mulai resah dan takut ditinggal pembeli akibat naiknya harga daging ayam.
Menurut salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Sidoharjo, Khusnul Khotimah, harga daging ayam potong yang sebelumnya hanya Rp 16 ribu perkilo kini naik menjadi Rp 18 ribu perkilo.
"Sementara daging ayam petelur kini jadi Rp 20 ribu perkilo dari harga sebelumnya yang hanya Rp 18 ribu perkilo," ungkapnya kepada detiksurabaya.com saat di Pasar Sidoharjo, Lamongan, Sabtu (24/5/2008).
Menurut Khusnul, sejak pengumuman kenaikan harga BBM Jumat malam, stand miliknya yang menjual daging ayam sejak pagi masih saja sepi pembeli.
"Biasanya saya bisa menjual 50 ekor perharinya, tapi sampai siang saya baru bisa menhabiskan 30 ekor," terangnya seraya mengungkapkan jika daging ayam yang dia jual didatangkan dari Surabaya.
Sementara itu, pedagang sayur yang ada di Pasar Sidoharjo kini juga mulai kebingungan dengan naiknya harga BBM. "Kami juga berancang-ancang menaikkan harga, karena biaya transportasi juga naik mas," ungkap Hj Umi, penjual sayur di Pasar Sidoharjo.
Sedangkan di Pasar Sukodadi, kondisi yang serupa di Pasar Sidoharjo juga terjadi di sini. Di Pasar Sidoharjo, harga daging ayam mulai merambat naik dan beberapa pedagang lainnya juga mulai ancang-ancang untuk menaikkan harga dagangannya.
"Bagaimana lagi, lha wong biaya angkut dan kirim dagangan ini juga naik," terang Baidah, salah seorang pedagang di Pasar Sukodadi. (fat/fat)











































