"Jangankan upacara Hari Kebangkitan Nasional, upacara kemerdekaan saja hampir tidak pernah. Tahun ini yang katanya peringatan satu abad Kebangkitan Nasional, juga tidak ada agenda apapun," kata Kustiono kepada detiksurabaya.com, Selasa (20/5/2008).
Dengan segala kondisi dan kurangnya perhatian pemerintah, tak heran apabila museum dan monumen tersebut sepi dari pengunjung. Dalam satu bulan, jumlah pengunjung di lokasi tersebut dapat dihitung dengan jari tangan, dan itupun sebagian besar hanya siswa di wilayah Nganjuk saja.
Yang tak kalah ironis adalah pengetahuan anak-anak muda di sekitar lokasi museum dan monumen yang ternyata juga tak banyak mengetahui sejarah dr Soetomo. "dr Soetomo kan Bung Tomo itu kan," kata Nuraini santai saat ditanya mengenai siapa dr Soetomo.
Mungkin ini adalah salah satu bukti, jika kurangnya perhatian dari pemerintah membuat nama pahlawan besar seperti dr Soetomo justru tak dikenali oleh anak-anak muda di sekitar lokasi kelahirannya.
Dengan momentum satu abad Kebangkitas Nasional, Kustiono dan warga sekitar berharap muncul satu perhatian dari pemerintah, baik Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, maupun pemerintah pusat.
Museum dan monumen dr Soetomo yang berlokasi 10 Km sebelah selatan Kabupaten Nganjuk ini menyimpan berbagai benda bersejarah yang menunjukkan bukti-bukti perjuangan dr Soetomo, seperti alat suntik, alat injeksi, stetoskop, alat pembuangan kemih penderita infeksi, alat pengobatan infeksi, serta meja operasi lengkap dengan segala peralatannya.
Alat-alat kedokteran tersebut merupakan milik pribadi dr Soetomo saat bekerja sebagai ahli kulit di RS Simpang (CBZ) Surabaya.
Tak ketinggalan, di museum tersebut juga tersimpan koleksi buku pribadi dr Soetomo dalam bahasa Belanda dan Jerman. Bahkan foto-foto kenangan pribadi dan perjuangan organisasi "Boedi Utomo" juga masih tampak tersimpan.
Foto: Foto dr Soetomo di dalam museum/Samsul Hadi (bdh/bdh)











































