Padahal, dr Soetomo merupakan salah satu pendiri organisasi "Boedi Utomo" yang notabene merupakan tonggak Kebangkitan Nasional.
Museum yang berlokasi 10 Km sebelah selatan Kabupaten Nganjuk tersebut menyimpan berbagai benda bersejarah yang menunjukkan bukti-bukti perjuangan dr Soetomo, seperti alat suntik, alat injeksi, stetoskop, alat pembuangan kemih penderita infeksi, alat pengobatan infeksi, serta meja operasi lengkap dengan segala peralatannya. Alat-alat kedokteran tersebut merupakan milik pribadi dr Soetomo saat bekerja sebagai ahli kulit di RS Simpang (CBZ) Surabaya.
Tak ketinggalan, di museum tersebut juga tersimpan koleksi buku pribadi dr Soetomo dalam bahasa Belanda dan Jerman. Bahkan foto-foto kenangan pribadi dan perjuangan organisasi "Boedi Utomo" juga masih tampak tersimpan.
Namun sayang, meski isinya benda-benda bersejarah, penghargaan yang diberikan tak sebanding dengan nilai sejarahnya. Tak banyak perhatian, baik dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, maupun pemerintah pusat.
Dari pengamatan detiksurabaya.com, Selasa (20/5/2008) di lokasi museum yang berdiri di lahan seluas 2 hektare tersebut tak tampak adanya perawatan berkala. Alat-alat kesehatan milik dr Soetomo sudah mulai karatan, dan foto serta bukunya tampak mulai usang. Suasana kusam dan tak terurus sudah tampak saat pertama kali menginjakkan kaki di lokasi museum.
Bahkan yang ironis, halaman luar museum saat ini dimanfaatkan warga sekitar untuk menggembala kambing.
Kondisi isi museum yang mulai usang semakin lengkap tak terawat setelah melihat atap dan plafon museum yang tampak bolong-bolong. Dengan kondisi seperti itu, sudah dapat dipastikan, jika turun hujan maka titik kebocoran terdapat di mana-mana.
Bukti kondisi kusam dan tak terawat tersebut juga selaras denagn penuturan Kustiono (63), yang telah puluhan tahun penjadi juru pelihara museum dan monumen dr Soetomo. Lelaki yang mendapatkan tugas merawat museum dr Soetomo dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk tersebut mengaku, selama ini tak banyak biaya yang diberikan untuk melakukan peratwan di museum tersebut.
"Tak banyak, dan terkadang saya yang harus nomboki," kata Kustiono yang mengaku hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 300 ribu setiap bulannya.
Kustono menambahkan, tugasnya selama ini hanya menyapu dan merawat beberapa benda peninggalan dr Soetomo. Namun jika ada rusak maka diwajibkan memberi laporan.
"Ya pokoknya saya jalankan tugas, saya laporkan kalau ada kerusakan meski sangat jarang ditindak lanjuti," ujarnya.
Foto: Kondisi Museum dr Soetomo di Nganjuk, Jawa Timur yang kurang terurus/Samsul Hadi (bdh/bdh)











































