Ayah kandung korban, Lamin (50) saat mendatangi RSUD Pelem Pare setelah mendapat kabar kematian anaknya Minggu dinihari, tampak sangat muram. Dengan mata tampak berkaca-kaca, lelaki yang hanya bekerja sebagai buruh tani ini mengaku tak memiliki firasat apapun.
"Saya sama sekali tak menyangka jalan hidupnya akan seperti ini," katanya lirih dalam bahasa Jawa, Minggu (18/5/2008).
Lamin menambahkan, kematian anak semata wayangnya membuat keluarganya terpukul. Namun dia mengaku sangat bersalah karena selama ini sangat
minim dalam memberikan kasih sayangnya.
"Dia itu sejak kecil sampai dewasa ini ikut neneknya. Ibunya sendiri sampai sekarang juga masih bekerja sebagai TKW," uajrnya sambil menyeka air mata.
Saat disinggung mengenai hubungan anaknya dengan pacar sekaligus pamannya, Lamin mengaku tak banyak mengetahui. Yang diketahui, anaknya memang dekat dengan pamannya yang sering berkunjung ke rumah.
Sementara untuk proses hukum atas tidakan bidan yang mengakibatkan kematian anaknya, Lamin mengaku pasrah. Semua diserahkannya ke aparat kepolisian.
"Biar semua yang mengurus Pak Polisi, saya percaya mereka bisa adil dalam memberikan hukuman," kata Lamin.
Jenazah Novila Sutiana menurut rencana akan dibawa ke kampung halamannya di Dusun Gegeran, Desa/Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo untuk dimakamkan di TPU setempat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Novila Sutiana meninggal dunia Minggu dinihari setelah mengalami muntah darah dan pendarahan hebat akibat kesalahan bidan dalam memberikan dosis obat untuk aborsi kandungannya, yang diketahui berumum 1 bulan lebih satu minggu. (fat/fat)











































