Dalam aksinya, massa pendemo terlebih dulu melakukan long march di sejumlah titik strategis jalan protocol kawasan kota. Puluhan mahasiswa juga memajang poster serta spanduk berisi kecaman terhadap pemerintahan SBY-JK yang dinilai menyengsarakan rakyatnya.
"Pemerintah yang seharusnya membuat rakyat sejahtera, tetapi justru kian menambah buruk wajah masyarakat miskin yang kini jumlah selalu bertambah setiap tahun. Rakyat semakin melarat dengan imbas kenaikan harga BBM. Tolak kebijakan kenaikan harga BBM," teriak Jhon Hartono, korlap aksi demo AMSI.
Usai berorasi di bundaran Jalan Basuki Rachmat, iring-iringan massa AMSI melanjutkan aksinya dengan berjalan kaki menyusuri jalan Sucipto - Wijaya Kusuma dan Jalan Kenanga dengan sasaran menuju Gedung DPRD Situbondo.
Aksi demo AMSI kian memanas saat mereka dilarang memasuki gedung DPRD. Aksi saling dorong antara mahasiswa dengan aparat polisi dan Satpol PP menjadi pemandangan cukup menegangkan ketika pendemo memaksa untuk mendobrak gerbang pintu utama gedung wakil rakyat.
Setelah terjadi aksi dorong dengan petugas, 30 menit kemudian perwakilan AMSI diperkanankan untuk masuk dan berdialog. Kehadiran mereka diterima oleh Ketua Komisi A DPRD, Rachamd SH MHum. Dalam dialog itu AMSI mendesak dewan untuk menyatakan dukungannya atas aksi mahasiswa tersebut.
Usai berdialog, kader militan Partai Golkar ini pun dipaksa keluar oleh mahasiswa. Rachmad lantas disuruh membakar sebuah keranda yang diusung pendemo sebagai simbol matinya nurani pemerintah.
"Hidup dewan. Merdeka. Tolak kebijakan kenaikan BBM," teriak massa AMSI mewarnai kobaran api keranda yang dibakar.
Foto: Mahasiswa Situbondo membakar keranda sebagai simbol matinya nurani pemerintah/Irwan Yulianto (bdh/bdh)











































