Warga yang mengaku menjadi korban itu adalah Rasmi (20) warga Dusun Gedung, Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep. Ia menerima sms yang bertuliskan 'Lahaula hawa.....'. Dan saat dibaca seolah dirinya merasakan seolah mempunyai kekuatan gaib.
"Ketika sms itu saya buka tadi siang, terasa ada yang menyedot. Lalu, saya tidak ingat apa yang terjadi karena jatuh pingsan," kata Rasmi kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/5/2008).
Ia mengaku baru beli kartu perdana XL, setelah diaktifkan ada sms masuk. Lalu dibuka dan terjadi keanehan yang mempunyai kekuatan gaib itu. Dia pingsan 15 menit.
Namun, sms yang mempunyai kekuatan itu tidak berwarna merah seperti yang banyak dibicarakan orang saat ini.
"Layar LCD saya tidak berubah, tidak memancarkan warna merah kok," ujarnya.
Salah seorang warga setempat yang mengetahui kejadian itu, Ny Mariyamah (42) menyebutkan jika ponsel Rasmi sempat dibanting dan orangnya langsung roboh sehingga peristiwa tersebut mengundang perhatian banyak orang.
"Setelah disiram air, Rasmi baru bisa sadarkan diri," terangnya kepada wartawan.
Informasi yang dihimpun, di Kecamatan Saronggi yang berjarak 7 Km dari kota Sumenep bahkan warga setempat mengumumkan melalui pengeras suara mushola-mushola untuk berhati-hati apabila menerima pesan yang sudah menyebar luas ke beberapa kota di Indonesia itu.
Seperti diberitakan Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (13/5/2008), menyatakan si pengirim awal SMS santet itu sengaja memanfaatkan keresahan masyarakat dengan medium telepon selular.
Dengan tertangkapnya orang tersebut juga mementahkan dugaan operator selular ingin menaikkan traffic.
"Orangnya (pengirim awal) sudah ketemu. Sudah diamankan kepolisian Riau," katanya. Siapa orang itu? "Itu kewenangan polisi untuk menjawab," jawab Gatot.
Ditambahkan dia, karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat, maka si pengirim awal SMS santet itu akan diproses pidana oleh aparat yang berwenang.
Menurut Gatot, setelah berkoordinasi dengan para operator di Tanah Air, pihaknya segera melokalisir. Setelah itu, dilaporkan kepada pihak kepolisian dan kejaksaan.
"Di setiap nomor seluler kan ada local number-nya jadi bisa diketahui di daerah mana. Kick off-nya diketahui dari daerah Riau. Saat pelacakan terkendala registrasi karena tidak valid, tapi akhirnya bisa ditemukan juga," tutur dia. (gik/gik)











































