Pantauan detiksurabaya.com pada sejumlah kios bensin eceran mendapati harga berkisar Rp 6.000-7.000/liter. Kebanyakan kios mencantumkan tulisan harga yang telah mereka naikkan agar pembeli tidak kaget bahkan memprotes pedagang.
Contohnya Lamsuri, seorang pengecer bensin di Desa Sampang, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Mulai hari ini dia menjual bensin seharga Rp 7.000/liter. Alasannya karena sulit mendapatkan bensin di SPBU yang belakangan ini sering kehabisan stok.
"Dulu saya jual Rp 5.000/liter, tapi sekarang saya naikkan jadi Rp 7.000/liter. Pengecer disini kompak semua soal harga. Memang keuntungan lebih besar tapi untuk dapat bensin luar biasa sulitnya," tutur Lamsuri pada detiksurabaya.com, Kamis (8/5/2008).
Semua SPBU tidak berani terang-terangan melayani pembeli dengan jerigen. Sehingga para pedagang pengecer menyiasatinya dengan mengisi penuh tangki sepeda motor mereka. Sampai di rumah bensin tersebut dipindahkan dalam botol-botol literan untuk dijual kembali.
Lonjakan harga bensin ditingkat pengecer ini membuat konsumen enggan untuk membeli eceran. Hal ini berakibat terjadinya antrian panjang di SPBU. Sebab kebanyakan konsumen lebih memilih antri di SPBU daripada beli eceran dengan harga selangit.
Sementara dikalangan SPBU sendiri mengeluhkan pengurangan pasokan BBM jenis premium dari Depot Pertamina Cepu. SPBU Jetak, Bojonegoro yang seharusnya menerima pasokan 24 ribu liter sesuai DO (delivery order) tapi hanya mendapat 16 ribu liter.
"Hari ini cuma didrop 16 ton, padahal DO-nya 24 ton. Pernah minta tambahan 16 ton tapi hanya dikasih 8 ton. Ya tetap saja kurang, padahal tidak melayani jerigen," kata Nur Hidayat, seorang petugas SPBU Jetak.
Anehnya, pihak Depot Pertamina Unit Pemasaran Dalam Negeri (UPDN) IV Cepu membantah telah mengurangi pasokan premium pada SPBU. Stok premium di Depot Petamina Cepu dianggap mampu memenuhi kebutuhan SPBU di Kabupaten Blora, Bojonegoro dan Tuban.
"Kata siapa ada pengurangan, tidak ada pengurangan! Mungkin hanya soal kapasitas truk tangki yang kurang. Kalau ada stok pasti kami cukupi," ujar seorang karyawan Depot Pertamina UPDN IV Cepu yang tidak bersedia menyebut namanya saat dihubungi
melalui telpon. (bdh/bdh)










































