Mereka berunjuk rasa dengan menggunakan motor di Alun-Alun Kota Madiun menuntut pihak kepolisian mengusut kasus penembakan yang menyebabkan Nyaimin tewas. Mereka menilai jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan kasus tersebut terbengkalai.
Aksi yang berlangsung sekitar satu jam itu sempat membuat terhambat arus lalu-lintas, khususnya dari arah barat atau masuk Kota Madiun. Bahkan pengunjuk rasa tampak bersemangat saat Tri Jopko Kuncoro (24) yang pernah menjadi korban penembakan oknum kepolisian ikut hadir. Meski sampai sekarang kasusnya belum berakhir di persidangan.
Dalam orasinya, pengunjuk rasa mengaku prihatin dengan oknum kepolisian di Indonesia yang sering terlibat kasus penembakan.
"Kasus Yaimin bukan yang pertama terjadi di Madiun. Namun sudah berkali-kali tapi hingga kini semua kasus belum tuntas," kata salah satu koordinator aksi, Andi (30) kepada detiksurabaya.com, Rabu (7/5/2008) saat berorasi di Alun-Alun Madiun.
Sementara itu, aksi ini mendapat pengamanan ketat dari Polsekta Manguharjo dan Polresta Madiun. Sebelumnya dari data yang digali di lapangan menyebutkan, Yaimin tewas akibat diterjang peluru milik anggota Polwil Madiun di Petak 48-50 KPH Madiun, Selasa (6/5/2008) pukul 17.00 WIB adalah seorang buruh tani.
Dari versi polisi, Yaimin terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha melawan petugas patroli saat tertangkap basah mencuri kayu bersama empat orang lainnya, yang berhasil melarikan diri. (fat/fat)











































