Perkampungan Nelayan Disapu Gelombang Pasang

Perkampungan Nelayan Disapu Gelombang Pasang

- detikNews
Rabu, 07 Mei 2008 14:19 WIB
Situbondo - Puluhan rumah warga perkampungan nelayan di Dusun Kalbut, Desa Semiring, Kecamatan Mangaran, Situbondo, Jatim, diterjang gelombang pasang, Rabu (7/5/2008). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun puluhan rumah warga sempat terendam air laut setinggi 50 cm.

Warga sempat panik dan sempat mengevakuasi barang-barang berharga ketika air pasang mulai merendam rumah mereka.

"Bagaimana tidak panik, karena biasanya air masuk cuma ke halaman dan paling banter meluber ke teras. Sekarang meluber masuk ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Ya kami terpaksa menyelamatkan barang dan perabotan," tutur Buk Sumina (47).

Warga nelayan di perkampungan Kalbut juga meminta perhatian pemerintah agar
kejadian serupa tidak terus menimpa setiap saat. Mereka juga mendesak pemerintah untuk segera membangun tangkis pemecah gelombang agar gelombang pasang dan air laut tidak lagi merendam perkampungan itu.

Beruntung, genangan air laut yang memasuki rumah warga sejak pukul 10.30 WIB tersebut tidak berlangsung lama. Karena sejam kemudian air laut kembali surut.

Bukan saja menggenangi rumah warga, gelombang pasang juga sempat menyeret sejumlah perahu nelayan yang semula ditambatkan di bibir pantai. Belasan perahu nelayan setempat bahkan terseret masuk mendekati rumah pemukiman karena lepas dari tambatannya.

"Gelombang pasang seperti ini sudah berlangsung sejak empat hari terakhir. Namun sebelumnya tidak sampai memasuki rumah, hanya di halaman saja setinggi tumit orang dewasa," kata Marjuto (43) salah seorang nelayan Kalbut, kepada detiksurabaya.com.

Diungkapkan, kejadian imbas pasangnya air laut yang menggenangi rumah sudah menjadi hal rutin setiap tahun dan pergantian musim. Gelombang pasang kali ini disebut sebagai gelombang musim kemarau yang biasa mereka sebut sebagai gelombang panemor.

Selain ditandai musim paceklik atau sepi tangkapan ikan, biasanya gelombang pasang dan angin kencang kerap menerpa kawasan perairan.

"Jika musim begini, kebanyakan kami istirahat melaut sementara sembari menunggu redanya gelombang dan usai musim paceklik. Tapi di antara kami ada yang terpaksa nekat melaut, hanya untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan sehari-hari," sambung Taufiq (25) nelayan Kalbut lainnya.  (gik/gik)
Berita Terkait