Mayat bapak dua anak tersebut diketahui tewas dalam posisi memeluk sebuah dahan pohon sukun, sekitar 100 meter dari rumahnya. Di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat luka gosong, menempel di salah satu cabang pohon pada ketinggian sekitar 7 meter.
Sebelumnya korban berpamitan hendak menebang cabang dan ranting pohon sukun yang menjulang dan mengitari jaringan kabel PLN bertegangan menengah atau Saluran Udara Tegangan Menengah (STUM). Pria pekerja serabutan ini juga dikenal sebagai pengumpul
kayu bakar untuk kebutuhan sendiri dan selebihnya juga untuk dijual.
Diduga kuat saat tengah asyik menebang itulah, sebuah dahan pohon patah dan menimpa jaringan kabel listrik. Korban yang berpegangan kuat pada dahan itu nampaknya tak sempat menghindar hingga tubuhnya tersengat aliran listrik.
Beberapa saat kemudian salah seorang warga yang tengah melintas berteriak karena melihat tubuh korban bertengger di atas pohon sukun. Dalam waktu sekejap puluhan warga berkerumun di bawah pohon itu, namun tidak ada satu pun yang berani
menurunkannya.
Jenazah korban dibiarkan bertengger di atas pohon sekitar 2 jam lebih. "Kami takut untuk menurunkannya karena kami tahu korban telah meninggal dunia akibat kesetrum kabel listrik PLN. Jenazahnya baru diturunkan setelah warga melaporkannya ke polisi dan petugas PLN Asembagus," tutur Sugianto (45), salah seorang tokoh masyarakat setempat kepada detiksurabaya.com.
Jalannya penurunan jenazah korban sempat diwarnai jerit histeris dan tangisan keluarga. Demikian halnya puluhan warga yang memadati tempat kejadian di bawah pohon sukun, tak kuasa menahan tangis dan tak henti-hentinya meneriakkan doa dan dzikir. (bdh/bdh)










































