Aktivitas pendakian kembali dibuka setelah kondisi cuaca sudah membaik dan jalurĀ pendakian telah diperbaiki.
Kepala BTNBTS Novianto Bambang menjelaskan pendakian ke GUnung Semeru ditutup selama 7 bulan menyusul cuaca buruk di puncak Gunung Semeru dan ancaman tanah longsor di sejumlah titik.
Selain itu, juga dibutuhkan waktu untuk recovery ekosistem setelah ribuan pendaki mengikuti upacara bendera kemerdekaan di puncak Gunung Semeru Agustus 2007 lalu.
Meski aktivitas pendakian dibuka, namun para pendaki hanya diizinkan maksimal sampai di daerah kali mati atau kawasan vegetasi terakhir.
Pendaki dilarang mendekati kawah Jonggring Saloka karena berbahaya. "Kawah masih mengeluarkan abu vulkanik dan lava pijar. Jadi para pendaki harus tetap waspada dan berhati-hati," jelasnya saat dihubungi.
Novianto meminta para pendaki untuk mengenakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan.
Para pendaki diminta untuk mentaati aturan demi keselamatan. Sebelum mendaki ke puncak, para pendaki wajib mengisi surat pernyataan tidak akan mendekati kawah Gunung Semeru.
Berdasar laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gunung Semeru dalam status waspada (Level 2), setiap 15 hingga 30 menit kawah Jonggring Saloka terjadi letusan abu vulkanik semburan material pijar, lontaran abu dan guguran awan panas.
Pada cuaca cerah teramati letusan asap putih kelabu dengan ketinggian antara 200 hinga 600 meter dari bibir kawah.
Semburan material vulkanik pijar sangat berbahaya bagi masyarakat dan satwa yang berada di radius 1 kilometer dari bibir kawah. Endapan material vulkanik juga mengancam banjir lahar dingin, bila hujan deras terus mengguyur kawasan puncak Gunung Semeru.
Karena karakter letusan Gunung Semeru yang tercatat cepat berubah, maka Balai BTNBTS senantiasa berkoordinasi dengan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru. Selain itu, juga terus berkoordinasi dengan satuan pelaksana penanggulangan bencana karena
ancaman bencana bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Aktivitas pendakian ini akan ditinjau kembali, jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan atau penurunan aktivitas vulkanik," pungkasnya. (gik/gik)










































